(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
- Pasar keuangan cenderung terkoreksi terutama rupiah, di tengah tekanan eksternal dari bullish-nya dollar dan prospek berlanjutnya kenaikan bunga the Fed.
- APBN 2024 dilaporkan Presiden dirancang untuk mendukung transformasi ekonomi, dan agenda pembangunan serta melindungi masyarakat dari goncangan.
- Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini adalah rilis RDG Bank Indonesia untuk suku bunga acuan BI7DRR pada Kamis yang diperkirakan bertahan di level 5,75%.
Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 21-25 August 2023.
===
Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau terkoreksi agak terbatas, masih sekitar rentang konsolidasi 5 minggu terakhir, agak tertekan dengan sentimen negatif bursa regional oleh prospek the Fed masih akan menaikkan suku bunga ke depannya. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada umumnya terkoreksi. Secara mingguan IHSG ditutup melemah 0,29%, atau 20,067 poin, ke level 6.859,912. Untuk minggu berikutnya (21-25 Agustus 2023), IHSG kemungkinan akan masih konsolidatif dalam bias negatif, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 6.966 dan 6.989. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6.825, dan bila tembus ke level 6.622.
Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu melemah di minggu kelimanya, ke sekitar 22 minggu atau 5,5 bulan terendahnya, tertekan lagi oleh bullish-nya dollar setelah risalah the Fed menunjukkan masih akan menaikkan bunganya untuk menlawan inflasi AS, ditambah terdapatnya capital outflow di pasar SBN sekitar Rp3,7 triliun, sehingga rupiah secara mingguannya berakhir melemah 0,45% ke level Rp 15.170. Sementara, dollar global terpantau masih bullish pada 6 minggu terkuatnya. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan akan berbalik lalu kembali menanjak, atau kemungkinan rupiah berupaya bangkit namun masih cenderung tertekan, dalam range antara resistance di level Rp15.391 dan Rp15.455, sementara support di level Rp15.185 dan Rp15.018.
Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau berakhir melemah secara mingguannya, terlihat dari pergerakan naik yield obligasi dan berakhir ke 6,495% pada akhir pekan. Ini terjadi di tengah berbaliknya ke aksi jual investor asing di SBN. Sementara yields US Treasury menguat di pekan keempatnya.
===
Untuk mendukung transformasi ekonomi, dan agenda pembangunan serta melindungi masyarakat dari goncangan, postur APBN 2024 harus tetap sehat. Hal ini diungkapkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam Pidato Penyampaian Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran dan Pendapatan Belanja Tahun 2024 beserta Nota Keuangannya, pada Rabu (16/08) di Sidang Paripurna DPR RI, Jakarta.
Presiden melanjutkan bahwa dengan mencermati tantangan dan agenda pembangunan serta upaya reformasi fiskal yang komprehensif, maka postur RAPBN 2024 sebagai berikut. Pendapatan negara direncanakan sebesar Rp2.781,3 triliun, yang terdiri dari Penerimaan Perpajakan Rp2.307,9 triliun dan PNBP sebesar Rp473,0 triliun, serta Hibah sebesar Rp0,4 triliun.
Sementara itu, belanja negara dialokasikan sebesar Rp3.304,1 triliun yang terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp2.446,5 triliun dan Transfer ke Daerah sebesar Rp857,6 triliun. Keseimbangan primer negatif Rp25,5 triliun didorong bergerak menuju positif. Defisit anggaran sebesar 2,29% PDB atau sebesar Rp522,8 triliun.
Berdasarkan data transaksi 14 – 16 Agustus 2023, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp6,79 triliun terdiri dari jual neto Rp3,65 triliun di pasar SBN dan jual neto Rp3,14 triliun di pasar saham.
===
Sejumlah pelaku pasar adakalanya menghadapi masa-masa panik di tengah situasi tekanan pasar. Kadang-kadang investor bisa bereaksi secara sepertinya kurang logis atau over-reactive. Apapun itu, tidak mudah bereaksi bahkan secara logis pun pada saat pasar sedang heboh, gonjang-ganjing dan panik. Ini, antara lain, menunjukkan kuatnya fenomena psikologis dalam pasar, baik dalam individu per investor maupun di level pasar secara universal yang bisa disebut sebagai psikologi pasar. Di tengah kepanikan pasar demikian, ada saja investor yang bisa diuntungkan, misalnya untuk mereka yang bulan-bulan belakangan ini cukup tepat waktu untuk masuk dan keluar pasar di tengah pasar yang sideways.
Bagaimana pun, tidak mudah untuk mengikuti, memahami, apalagi memanfaatkan gejolak pasar yang naik turun. Jangan khawatir, Vibiznews.com adalah ahlinya untuk membantu menganalisis pasar bagi Anda dan memetik keuntungan dari dinamikanya. Mungkin Anda telah membuktikannya juga sebelum ini. Terima kasih telah bersama kami, ketahuilah kami ada demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting



