(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah berakhir naik 3% pada hari Kamis, melanjutkan kenaikan sesi sebelumnya terdukung prospek permintaan global yang sedikit membaik untuk tahun 2024 dan pelemahan dolar AS.
Minyak mentah berjangka WTI AS kontrak bulan Januari berakhir naik $2,11, atau 3,04%, menjadi $71,58 per barel.
Minyak mentah berjangka Brent kontrak bulan Februari naik $2,35, atau 3,16%, menjadi $76,61 per barel.
Harga minyak naik lebih dari 1% pada hari Rabu karena penarikan 4,3 juta barel dari persediaan minyak mentah AS, yang lebih besar dari perkiraan.
Badan Energi Internasional pada hari Kamis mengatakan permintaan minyak global akan tumbuh sebesar 1,1 juta barel per hari pada tahun 2024, naik sedikit dari perkiraan sebelumnya sebesar 930,000 barel per hari.
The Fed mengisyaratkan tiga kali penurunan suku bunga pada tahun 2024, yang dapat berdampak positif pada permintaan minyak tahun depan. Suku bunga yang lebih tinggi memperlambat pertumbuhan ekonomi, sehingga membebani harga minyak mentah.
Harga minyak juga terdukung pelemahan dolar AS juga turun ke level terendah empat bulan pada hari Kamis setelah The Fed mengindikasikan kenaikan suku bunga telah berakhir dan proyeksi pemotongan suku bunga tahun depan. Melemahnya dolar AS membuat minyak lebih murah, sehingga dapat meningkatkan permintaan.
Beberapa anggota OPEC dan sekutu utama mereka seperti Rusia telah berjanji untuk mengurangi pasokan sebesar 2,2 juta barel per hari pada kuartal pertama tahun 2024, namun pengurangan yang dijanjikan tidak banyak membantu meredakan sentimen bearish. Para pedagang skeptis bahwa OPEC dan sekutunya akan melakukan pemotongan, yang bersifat sukarela.
OPEC menyalahkan “kekhawatiran yang berlebihan mengenai pertumbuhan permintaan minyak” atas penurunan dramatis harga minyak mentah dalam laporan pasar kelompok tersebut pada bulan Desember.
Namun IEA, pengawas energi negara-negara Barat, memperkirakan pertumbuhan permintaan akan melambat hingga setengahnya pada tahun 2024. Pada saat yang sama, Amerika Serikat, Brasil, dan Guyana menghasilkan “pasokan yang memecahkan rekor.” Pertumbuhan produksi di luar OPEC akan melambat tahun depan, namun diperkirakan masih melebihi permintaan sebesar 1,2 juta barel per hari.
“Peningkatan produksi yang berkelanjutan dan melambatnya pertumbuhan permintaan akan mempersulit upaya produsen utama untuk mempertahankan pangsa pasar mereka dan mempertahankan harga minyak yang tinggi,” kata IEA, merujuk pada OPEC.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak akan dibayangi sentimen bearish peningkatan produksi, namun jika dolar AS melanjutkan pelemahan, akan dapat mengangkat harga minyak. Namun perlu diwaspadai upaya profit taking setelah harga minyak melonjak. Harga minyak diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance $72,85-$74,11. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support $69,93-$68,27.



