Rekomendasi Mingguan Harga Kedelai 5-9 Februari 2024 : Dibayangi Banyak Sentimen Bearish

291
kedelai, soymeal, soybean

(Vibiznews – Commodity) Harga kedelai berjangka di bursa Chicago Board of Trade (CBOT) pada minggu lalu merosot tertekan peningkatan produksi, pelemahan permintaan dan penguatan dolar AS.

Pada hari Jumat akhir pekan minggu lalu harga kedelai berakhir melemah tertekan penguatan dolar AS.

Indeks dolar AS melonjak setelah laporan pekerjaan bulanan AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga jangka pendek Federal Reserve.

Penguatan dolar membuat biji-bijian AS kurang kompetitif secara global, dan suku bunga yang lebih tinggi cenderung menghambat pertumbuhan ekonomi dan permintaan komoditas.

Sedangkan sehari sebelumnya pada hari Kamis, harga kedelai berakhir merosot akibat pelemahan permintaan.

Departemen Pertanian AS (USDA) melaporkan penjualan ekspor kedelai hasil panen lama AS pada pekan hingga 25 Januari sebesar 164,500 metrik ton, penghitungan mingguan terendah untuk tahun pemasaran 2023/24 yang dimulai 1 September.

Sementara itu, permintaan kedelai AS terhambat oleh persaingan yang ketat dari Brazil, di mana harga kedelai tunai sedang anjlok, serta krisis ekonomi di Tiongkok, yang sejauh ini merupakan pembeli kedelai terbesar di dunia.

Juga harga turun tertekan peningkatan produksi pada awal pekan lalu pada hari Senin, tertekan peningkatan produksi.

Harga kedelai berakhir turun pada hari Senin terpicu peningkatan produksi di Brazil dan Argentina.

Panen kedelai di Brazil mencapai 9%, dibandingkan 4,4% pada saat ini pada tahun lalu, demikian dilaporkan Safras dan Mercado.

Buenos Aires Grain Exchange (BAGE) memperkirakan 98% tanaman kedelai Argentina ditanam. Kondisinya dinilai 44% baik/ex, turun tajam dari minggu sebelumnya. Kelompok tersebut menilai 8% hasil panen dalam kondisi buruk dibandingkan hanya 2% pada minggu sebelumnya. Perkiraan produksi mereka sebesar 52,5 MMT masih lebih besar dari angka USDA terbaru sebesar 50 MMT.

Sementara itu, faktor yang memperkuat harga kedelai minggu lalu adalah upaya bargain hunting pada hari Selasa sehingga harga kedelai melonjak.

Harga kedelai pada minggu lalu berakhir merosot 1,68% pada $11.8850 per bushel.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk minggu ini, harga kedelai akan mencermati perkembangan produksi, permintaan dan pergerakan dolar AS.

Untuk perkembangan produksi, perlu terus dicermati perkembangan produksi di Amerika Selatan seperti Brazil dan Agentina, jika masih berlanjut naik akan menekan harga kedelai.

Untuk permintaan, dengan adanya persaingan dari permintaan Brazil, maka aka dapat terjadi penurunan permintaan. Apalagi jika ekonomi Tiongkok, sebagai negara pemesan kedelai yang besar juga turun, akan menekan permintaan.

Untuk pergerakan dolar AS diperkirakan masih menguat seiring penguatan data tenaga kerja AS pekan lalu

Non Farm Payrolls AS menambahkan 353 ribu pekerjaan pada bulan Januari 2024, dibandingkan dengan revisi naik sebesar 333 ribu pada bulan Desember, dan jauh di atas perkiraan pasar sebesar 180 ribu.

Sementara itu, tingkat pengangguran di Amerika Serikat bertahan pada angka 3,7% pada Januari 2024, tidak berubah dari bulan sebelumnya dan sedikit di bawah konsensus pasar sebesar 3,8%.

Sedangkan penghasilan rata-rata per jam untuk seluruh karyawan nonfarm payrolls swasta AS naik sebesar 19 sen, atau 0,6 persen, menjadi $34,55 pada bulan Januari 2024, di atas ekspektasi pasar sebesar 0,3 persen. Itu merupakan kenaikan terbesar sejak Maret 2022.
Selama 12 bulan terakhir, rata-rata penghasilan per jam meningkat sebesar 4,5 persen.

Jika dolar AS berlanjut menguat, akan menekan harga kedelai berjangka.

Dengan demikian harga kedelai akan menghadapi berbagai sentimen bearish peningkatan produksi, pelemahan permintaan dan penguatan dolar AS. Harga kedelai diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $11.81-$11.73. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $12.02-$12.16.