(Vibiznews – Index) – Bursa saham Amerika Serikat Wall Street berakhir negatif pada pekan terakhir Q1-2025, dengan semua indeks utama berada di zona merah oleh aksi jual cukup besar merespon data indeks PCE dan melemahnya sentimen konsumen AS.
Penurunan pada perdagangan yang berakhir hari Sabtu dinihari (29/3/2025) membuat ketiga indeks utama berada di zona merah dalam sepekan. Demikian secara bulanan performa indeks Wall Street berada di jalur pelemahan bulanan terbesar sejak September 2022.
Indeks S&P500 yang menjadi referensi untuk perdagangan saham Wall Street telah turun lebih dari 5% tahun ini. Dan sekalipun belum berakhir, indeks ini berada di jalur untuk mencatat kerugian kuartal pertamanya sejak September 2023 dan kuartal terburuk sejak September 2022.
Dalam 3 bulan pertama tahun 2025, indeks Wall Street terlihat mundur dari rekor tertinggi mereka seperti S&P 500 turun sekitar 7% dari rekor tertingginya pada penutupan 19 Februari dan Nasdaq turun hampir 12% dari rekor tertingginya pada penutupan 16 Desember.

Penyebab Besar Koreksi Rekor Wall Street
Kerugian yang dialami indeks utama Wall Street pada perdagangan kuartal pertama tahun ini paling banyak disebabkan oleh sentimen tarif Trump. Sejak pertama kali Presiden Amerika Serikat Donald Trump meneken perintah eksekutif untuk tarif impor terhadap Kanada dan Meksiko, pasar saham global bergolak oleh kekhawatiran munculnya perang dagang.
Presiden Trump juga menaikkan tarif impor untuk baja dan aluminium sebesar 25% dan berlaku pada tanggal 4 April bagi jutaan ton komoditas tersebut dari Kanada, Brasil, Meksiko, Korea Selatan, dan negara lain yang sebelumnya bebas bea.
Kemudian kekhawatiran perang dagang bertambah setelah Presiden Trump merencanakan akan menerapkan tarif resiprokal sebagai balasan tarif yang ditetapkan mitra dagang kepada barang AS pada tanggal 2 April.
Sepekan sebelum tarif resiprokal diumumkan, Presiden Trump kembali mengejutkan pasar saham dengan menetapkan tarif sebesar 25% pada semua mobil yang dikirim ke AS dan berlaku pada tanggal 3 April.
Lihat: Wall Street Masih Terbebani Ketidakpastian Tarif, Saham Teknologi Nasdaq Melemah
Tarif pada otomotif tersebut merupakan eskalasi dalam perang dagang dengan beberapa mitra dagang terbesar AS mengancam akan membalasnya. Tarif ini akan mengguncang pasar global dan mengganggu rantai pasokan yang saling terkait di seluruh Amerika Utara.
Kebijakan perdagangan Trump telah menciptakan ketidakpastian di Wall Street, karena investor khawatir atas potensi gangguan pada rantai pasokan, menghambat investasi, dan momok inflasi yang mengancam pertumbuhan ekonomi global.
Pengumuman Tarif Trump 2 April Membayangi Kinerja Wall Street Q2-2025
Pemerintahan Trump berencana untuk mengenakan tarif baru pada tanggal 2 April, dan menurut Trump sendiri sebagai pengumuman tarif yang terbesar. Karena rencana tarif tersebut mungkin lebih luas jangkauannya daripada pungutan impor yang telah diberlakukannya pada barang-barang dari negara lain.
Pengumuman kebijakan tarif pada tanggal 2 April tersebut membayangi sentimen bursa Wall Street mengawali perdagangan Q2-2025. Karena dampak dari pengumuman tersebut diperkirakan memicu volatilitas tinggi pada bursa saham.
Karena fluktuasi harga saham dapat bergantung pada sejumlah faktor seperti seberapa tinggi tarifnya, durasinya, negara dan sektor mana yang akan ditargetkan, serta tindakan pembalasan dari mitra dagang AS.
Namun pengumuman ini akan mengakhiri ketidak pastian tarif yang selama ini juga menekan sentimen pasar saham.
Secara fundamental dan jangka panjang, kebijakan tarif ini dapat mengangkat prospek ekonomi Amerika Serikat dan juga mitra dagangnya. Banyak ekonom memperkirakan mitra dagang AS ini akan mengalami surplus perdagangan tahunan yang besar.
Prospek Kekuatan Bursa Wall Street Memulai Q2-2025
Ada beberapa kondisi dibawah ini yang akan menopang sentimen di bursa Wall Street menjadi positif memulai perdagangan di kuartal kedua tahun ini setelah kuartal sebelumnya mundur dari rekor tertingginya.
- Perekonomian Amerika Serikat relatif baik jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Oleh ekspektasi untuk tarif Trump yang efektif membuat produk domestik bruto ( PDB ) riil diperkirakan tumbuh sekitar 1,9% pada tahun 2025 dan 2026, jauh di atas perkiraan pertumbuhan Zona Euro masing-masing sebesar 0,9% dan 1,4% menurut data survey S&PGlobal.

2. Pasar tenaga kerja AS berada pada posisi yang kokoh. Tingkat kemiskinan diperkirakan mencapai 4,2% tahun ini, sedikit meningkat dari 4,0% pada tahun 2024. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan estimasi Zona Euro sebesar 6,4%.
3. Ekspektasi laba kuartalan perusahaan di Amerika Serikat tetap terjaga. Perusahan yang terdaftar di S&P 500 diperkirakan akan meningkatkan laba sekitar 10% tahun ini. Tarif Trump juga tidak mengubah ekspektasi bahwa perusahaan di AS akan menghasilkan pertumbuhan laba yang lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia pada tahun 2025.
4. Strategi pemerintahan Presiden Trump “America First” dan prospek kebijakan pro-pertumbuhan ekonomi seperti perluasan pemotongan pajak, deregulasi, dan persaingan yang lebih adil dalam perdagangan global akan membantu mendukung daya tarik ekuitas AS.
5. Amerika Serikat memiliki rekam jejak dalam memimpin inovasi teknologi dan beradaptasi dengan persaingan global. Sekalipun baru-baru ini muncul model AI baru seperti DeepSeek dari Tiongkok, tidak mengurangi permintaan model AI Nvidia.
Prospek kekuatan bursa Wall Street diatas menurut analyst Vibiz Research Center akan mengembalikan keuntungan saham yang terkoreksi pada kuartal pertama tahun ini. Investor global akan kembali memburu saham Wall Street, khususnya saham-saham teknologi. Indeks S&P500 diperkirakan akan kembali ke posisi rekor tertingginya pada tanggal 19 Februari lalu yang berakhir di 6.144,15. Dan rekor akan diikuti oleh indeks lainnya seperti Nasdaq dan Dow Jones.
Lihat: Indeks Saham Wall Street Cetak Rekor Baru Hiraukan 2 Sentimen Negatif