(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah acuan dunia melonjak tinggi pada perdagangan komoditas sesi Amerika Serikat hari Selasa (9/9/2025) merespon laporan serangan Israel ke Qatar.
Harga minyak WTI melompat ke kisaran harga $62 per barel setelah diberitakan adanya laporan ledakan di Doha, Qatar, di mana Israel mengklaim telah menyerang para pemimpin senior Hamas.
Negara Qatar sebagai mediator utama dalam konflik Israel-Hamas dan tuan rumah bagi para pejabat Hamas, terguncang oleh asap yang mengepul di atas distrik Katara.
Guncangan geopolitik ini menambah pendorong bullish yang sudah ada di pasar minyak global.
Kenaikan harga sebelumnya sudah didukung oleh kenaikan produksi OPEC+ yang lebih kecil dari perkiraan, yaitu hanya 137.000 barel per hari untuk bulan Oktober, dibandingkan dengan kenaikan yang jauh lebih besar pada bulan-bulan sebelumnya.
Pasar juga memperkirakan Tiongkok akan terus menimbun minyak, yang semakin memperketat pasokan.
Sementara itu, kekhawatiran akan sanksi baru Barat terhadap Rusia meningkat setelah serangan udara terbesarnya terhadap Ukraina dalam beberapa bulan.
Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kesiapan untuk tindakan yang lebih keras, sementara Uni Eropa membahas sanksi bersama dengan Washington.
Harga Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak bulan September 2025 melonjak 1,02% menjadi $62,89 per barel.
Harga minyak mentah berjangka acuan jenis Brent melonjak 0,94% menjadi $66,64 per barel.
Secara teknikal, untuk pergerakan harga minyak WTI selanjutnya diperkirakan akan bertemu kisaran support di $61.10 – $59.80 dan kisaran resisten di $64.50 – $67.10.



