The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Bidik 2026

531
The Federal Reserve Board Building in Washington DC on a bright spring morning. The building was completed in 1937. It was named after Marriner S. Eccles (1890–1977), a former Chairman of the Federal Reserve by an Act of Congress on October 15, 1982.

(Vibiznews – Economy & Business) Harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) kembali diuji. Setelah sempat optimistis pada prospek pelonggaran moneter yang lebih agresif, kini pelaku pasar mulai memikirkan skenario yang jauh lebih panjang: bahwa pemangkasan berikutnya bisa saja bergeser hingga 2026. Perpaduan inflasi yang masih membandel, data ekonomi yang terdistorsi, dan perbedaan pandangan internal di tubuh The Fed menjadikan arah kebijakan suku bunga kian sulit diterka.

Belum lama ini, pasar hampir bulat memperkirakan pemangkasan suku bunga lanjutan pada pertemuan Desember. Sebagian pejabat The Fed pun sebelumnya sempat memberi sinyal bahwa bank sentral mungkin akan melakukan pemangkasan ketiga pada 2025. Namun, keyakinan itu kini memudar. Peluang pemangkasan suku bunga dalam jangka pendek lebih mirip lempar koin: mungkin terjadi, mungkin juga tidak.

The Fed Terbagi Tiga Kubu

Di balik dinamika ekspektasi pasar, The Fed sendiri tengah menghadapi fragmentasi pandangan yang semakin jelas. Para pembuat kebijakan dapat dipetakan ke dalam tiga kubu besar:

  • Kubu dovish, yang lebih fokus pada perlambatan ekonomi dan pasar tenaga kerja,
  • Kubu hawkish, yang menempatkan risiko inflasi sebagai ancaman utama,
  • Kubu moderat/undecided, yang menunggu kejelasan data sebelum mengunci sikap.

Keragaman pandangan ini muncul ketika The Fed harus kembali menyeimbangkan dua pilar mandat gandanya: stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum. Suku bunga yang terlalu tinggi terlalu lama berpotensi menekan permintaan dan memicu pelemahan ketenagakerjaan. Namun, pelonggaran yang terlalu cepat dapat menghidupkan kembali tekanan inflasi yang susah payah diturunkan dalam beberapa tahun terakhir.

Data terakhir sebelum penutupan (shutdown) pemerintahan AS menunjukkan inflasi tahunan berada di sekitar 3%, sementara tingkat pengangguran naik ke kisaran 4,3%. Kombinasi inflasi yang belum kembali ke target 2% dan sinyal melemahnya pasar tenaga kerja ini menempatkan The Fed dalam posisi serba sulit.

Kebijakan di Tengah “Kabut Data”

Penutupan pemerintahan menambah tantangan tersendiri. Sejumlah indikator ekonomi utama tertunda perilisannya, sehingga The Fed harus mengambil keputusan dalam kondisi “kabut data”. Untuk sementara, para pejabat bank sentral terpaksa lebih banyak mengandalkan survei swasta dan indikator alternatif untuk memantau inflasi, konsumsi, dan aktivitas bisnis.

Dalam konteks inilah, pemangkasan suku bunga seperempat poin pada Oktober  yang menurunkan Fed Funds Rate ke kisaran 3,75%–4,00%  dimaksudkan untuk memberi sedikit ruang bernapas bagi sektor riil. Biaya pinjaman jangka pendek yang lebih murah diharapkan dapat mendukung belanja, investasi, dan menahan pelemahan di pasar tenaga kerja.

Namun, langkah itu tidak serta-merta menghapus kekhawatiran terkait inflasi. Di sisi barang, tekanan harga tidak hanya datang dari faktor tradisional seperti tarif dan rantai pasok, tetapi juga dari dinamika biaya di sektor jasa, termasuk perawatan lansia dan layanan penitipan anak yang terus menanjak. Di sisi tenaga kerja, perusahaan-perusahaan besar dari berbagai sektor  termasuk Amazon, UPS, hingga Verizon telah mengumumkan gelombang PHK baru. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan dinamika kebijakan imigrasi semakin menambah lapisan kompleksitas pada prospek pasar kerja.

Tarik Ulur di FOMC  Hawkish vs Dovish Jelang Keputusan Desember

Perbedaan pandangan mengenai keseimbangan risiko antara inflasi dan pertumbuhan tercermin jelas dalam sikap para anggota Federal Open Market Committee (FOMC). Presiden The Fed Boston, Susan Collins, yang sebelumnya mendukung pemangkasan suku bunga pada September dan Oktober, kini mengisyaratkan kehati-hatian lebih besar. Ia menegaskan bahwa tanpa bukti pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja, ruang untuk melonggarkan kebijakan lebih lanjut menjadi sangat terbatas, apalagi dengan keterbatasan data inflasi akibat shutdown.

Nada serupa, meski dengan penekanan berbeda, muncul dari Presiden The Fed Atlanta, Raphael Bostic, yang mengindikasikan bahwa FOMC mungkin tidak lagi berada pada jalur pemangkasan ketiga berturut-turut seperti yang sempat diperkirakan pasar. Di sisi lain, suara penentangan (dissent) dalam rapat FOMC Oktober juga mencuat dari dua arah sekaligus.

Presiden The Fed Kansas City, Jeff Schmid, menolak pemangkasan suku bunga dan menginginkan level suku bunga ditahan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang masih relatif kuat menyimpan risiko inflasi yang bisa kembali menyala jika pelonggaran dilakukan terlalu dini. Baginya, ketegangan di dalam mandat ganda The Fed adalah faktor utama dalam mempertimbangkan arah kebijakan ke depan.

Sebaliknya, Gubernur The Fed Stephen Miran justru mendorong pemangkasan yang lebih agresif: sebesar 50 basis poin, baik pada September maupun Oktober. Ia menilai bahwa pelonggaran yang lebih besar dibutuhkan untuk mengantisipasi potensi pelemahan ekonomi yang lebih tajam, meskipun tetap membuka ruang untuk mengubah pandangan jika data ke depan mengharuskannya.

Dari spektrum pandangan ini, terlihat bahwa konsensus di dalam FOMC tengah berada pada fase paling rapuh sejak siklus pengetatan berakhir. Keputusan Desember  dan kemungkinan besar beberapa pertemuan berikutnya is a akan sangat bergantung pada set data yang masuk di menit-menit terakhir.

Pasar Mengalihkan Fokus ke 2026

Jika di awal tahun pasar masih terobsesi pada “kapan tepatnya” The Fed mulai memangkas suku bunga, kini pertanyaan bergeser menjadi “seberapa lama suku bunga akan bertahan tinggi”. Ketua The Fed Jerome Powell secara tegas menepis anggapan bahwa pemangkasan Desember adalah sesuatu yang sudah hampir pasti. Dalam konferensi pers setelah rapat FOMC 29 Oktober, ia menegaskan bahwa kemungkinan tersebut “jauh dari” kepastian.

Reaksi pasar terlihat jelas pada probabilitas pemangkasan yang dipantau melalui berbagai alat pemantau ekspektasi suku bunga. Peluang pemangkasan Desember turun jauh dari level sebelumnya yang dominan, mencerminkan penyesuaian cepat pelaku pasar terhadap narasi baru The Fed.

Di Wall Street, sejumlah institusi keuangan besar mulai mengadopsi pandangan yang lebih hati-hati. Sebagian melihat bahwa pemangkasan pada Januari 2026 sekalipun belum tentu terjadi jika inflasi tetap berada di atas target. Ada kesadaran yang kian kuat bahwa The Fed mungkin akan menahan suku bunga di level restriktif lebih lama, sambil memastikan inflasi benar-benar kembali ke jalur 2% secara berkelanjutan.

Meski demikian, tidak semua proyeksi bernada gelap. Beberapa manajer aset global memperkirakan bahwa siklus pelonggaran tetap akan berlangsung, hanya saja dengan tempo yang lebih lambat dari harapan awal investor. Proyeksi suku bunga kebijakan yang turun secara bertahap menuju kisaran 3,4% pada akhir 2026 menggambarkan skenario “soft landing” versi terbaru: inflasi turun pelan, pertumbuhan moderat, dan pasar tenaga kerja mendingin tanpa runtuh.

Investor Bersiap Hadapi Era Suku Bunga Tinggi Lebih Lama

Bagi pelaku pasar global, termasuk investor di Asia dan Indonesia, ketidakpastian arah suku bunga The Fed ini membawa beberapa konsekuensi penting. Pertama, durasi suku bunga tinggi yang lebih panjang berpotensi mempertahankan imbal hasil aset berdenominasi dolar pada level menarik, terutama di pasar obligasi jangka pendek hingga menengah. Kedua, volatilitas di pasar saham dan mata uang bisa meningkat setiap kali data inflasi dan ketenagakerjaan dirilis, mengingat sensitivitas The Fed terhadap data-data tersebut.

Ketiga, sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga  seperti properti, perbankan, dan teknologi berorientasi growth akan tetap berada di bawah sorotan tajam investor. Sementara itu, aset lindung nilai seperti emas dapat kembali menjadi perhatian apabila sentimen “higher for longer” menambah kekhawatiran atas prospek pertumbuhan global.

Pada akhirnya, perdebatan di dalam The Fed, dinamika inflasi, dan penyesuaian ekspektasi pasar membentuk satu pesan utama untuk investor: era suku bunga rendah yang cepat dan agresif kembali turun tampaknya belum akan kembali dalam waktu dekat. Tahun 2026 kini muncul sebagai horizon baru, di mana harapan pelonggaran kebijakan moneter yang lebih nyata mungkin baru benar-benar diuji.