(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak sawit atau CPO acuan dunia merosot untuk sesi ketiga berturut-turut dan terjun ke posisi terendah dalam 6 bulan pada akhir perdagangan hari Selasa (16/12/2025) tertekan oleh penguatan ringgit dan pelemahan minyak nabati saingan di pasar Dalian dan Chicago.
Harga minyak sawit yang banyak diperdagangkan yaitu kontrak berjangka bulan Januari 2026 turun 1,10% menjadi sekitar MYR3.947, setelah awal sesi sempat berada di posisi MYR3.995.
Sentimen semakin tertekan oleh tanda-tanda ekspor yang lebih lemah, karena surveyor kargo memperkirakan pengiriman produk minyak sawit Malaysia untuk 1–15 Desember turun antara 15,9% dan 16,4% dari bulan sebelumnya.
Di sisi penawaran, persediaan akhir November naik 13% menjadi 2,84 juta ton, level tertinggi dalam 6-1/2 tahun, mencerminkan produksi tahunan yang kuat yang berada di jalur untuk melampaui 20 juta ton untuk pertama kalinya.
Faktor-faktor yang menekan pasar ini sebagian diimbangi oleh sinyal permintaan dari pembeli utama, India, di mana impor minyak sawit pada bulan November naik sekitar 5% dari bulan Oktober menjadi 632.341 metrik ton, karena para penyuling memanfaatkan harga yang lebih rendah.
Sebagai tambahan dukungan, data regulator industri yang dirilis pekan lalu menunjukkan produksi minyak sawit mentah bulan November turun 5,3% dari bulan sebelumnya menjadi 1,94 juta ton.



