(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak sawit atau CPO acuan dunia berbalik turun dari lonjakan awal sesi pada perdagangan bursa komoditas Malaysia hari Jumat (9/1/2026) oleh perkiraan rilis data pasokan di bulan Desember pada hari Senin pekan depan.
Harga minyak sawit yang banyak diperdagangkan yaitu kontrak berjangka bulan Maret 2026 turun 0,12% menjadi sekitar MYR4.038, setelah awal sesi sempat berada di posisi MYR4.094.
Penguatan awal sesi disebabkan sentimen ekspektasi yang meningkat akan permintaan yang lebih kuat menjelang Tahun Baru Imlek dan Ramadan pada bulan Februari. Demikian
Di Indonesia, para pejabat mengisyaratkan kemungkinan kenaikan bea ekspor minyak sawit untuk mendanai mandat biodiesel, sebuah langkah yang dapat membatasi ketersediaan ekspor dari produsen utama dunia.
Di Tiongkok sebagai pembeli utama, indeks harga konsumen dilaporkan naik lebih lanjut sementara deflasi harga produsen mereda, memperkuat tanda-tanda bahwa langkah-langkah stimulus mulai meningkatkan permintaan.
Namun proyeksi pasokan Malaysia mencapai tertinggi hampir 7 tahun membebani pasar dan harga terpangkas.
Tekanan juga dipicu oleh data permintaan yang lebih lemah dari India, pembeli minyak sawit terbesar di dunia, dengan impor Desember turun ke level terendah delapan bulan di tengah konsumsi musim dingin yang lemah dan penggunaan minyak saingan yang lebih besar.



