(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
- Pasar keuangan di minggu lalu umumnya variatif, dengan IHSG yang terkoreksi dari rekor sedangkan rupiah berbalik bullish signifikan dari rekor terendahnya.
- Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 4,75%.
- Sektor manufaktur triwulan IV 25 dalam PMI-BI dilaporkan ekspansif dan bertambah.
- Dana asing tercatat net capital outflow, sekitar Rp6 triliun dalam sepekan.
- Sentimen global saat ini sekitar dinamika isyu geopolitik Greenland, serta rilis kebijakan the Fed minggu mendatang.
- Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang terbatas untuk domestik, tetapi untuk global pengumuman the Fed pada Kamis dini hari mendatang menjadi perhatian pasar.
Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 26-30 January 2026.
===
Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau terkoreksi 3 hari dari rally rekor sebelumnya, masuk ke 1,5 minggu terendahnya ditarik sektor bahan baku dan utilitas. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya bias melemah di antara gejolak geopolitik Greenland yang kemudian mereda. Secara mingguan IHSG ditutup melemah 1,37%, atau 124,396 poin, ke level 8.951,010.
Untuk minggu berikutnya (26-30 Januari 2026), IHSG kemungkinan masih diincar profit taking pendek namun lebih konsolidatif, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level level level 9.175 dan 9.230. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 8,837 dan bila tembus ke level 8,715.
Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu berakhir rebound pada 3 hari pasar terakhir dari rekor terlemahnya kepada 2 minggu terkuatnya. Rupiah secara mingguannya berakhir menguat 47 poin ke level Rp 16.818 per USD. Sementara, dollar global terpantau merosot di akhir pekan ke level 4 bulan terendahnya oleh tekanan sentimen ‘sell America’ di tengah gejolak geopolitik serta estimasi the Fed akan mempertahankan suku bunganya pada minggu ini (Kamis dini hari) dan akan bertahan lebih lama.
Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berlanjut menurun walau lebih bertahap, atau kemungkinan rupiah masih bullish menjauhi area rekor terendahnya, dalam range antara resistance di level Rp16.976 dan Rp16.996, sementara support di level Rp16.795 dan Rp16.690.
Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau turun secara mingguannya, terlihat dari pergerakan naik melejit yield obligasi dan berakhir ke level 6,417% pada akhir pekan dalam 3 minggu berturut-turut. Ini terjadi di tengah berlanjutnya aksi jual investor asing di pasar SBN. Sementara yields US Treasury terpantau berakhir naik di minggu keduanya.
===
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 Januari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%.
Menurut BI pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 diprakirakan lebih tinggi ditopang oleh kenaikan permintaan domestik sejalan dengan membaiknya keyakinan pelaku ekonomi dan peningkatan stimulus fiskal. Pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2025 diprakirakan berada di kisaran 4,7–5,5%. Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diprakirakan meningkat dalam kisaran 4,9–5,7%, ditopang kenaikan permintaan domestic.
Kinerja Lapangan Usaha (LU) Industri Pengolahan pada triwulan IV 2025 meningkat dan berada pada fase ekspansi (indeks >50%), tecermin dari PMI-BI triwulan IV 2025 sebesar 51,86%, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 51,66%.
Berdasarkan komponen pembentuknya, peningkatan PMI-BI didorong oleh ekspansi pada mayoritas komponen yaitu Volume Produksi, Volume Persediaan Barang Jadi, dan Volume Total Pesanan.
Berdasarkan data transaksi 19 – 22 Januari 2026, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp5,96 triliun, terdiri dari jual neto sebesar Rp2,67 triliun di pasar saham, Rp1,44 triliun di pasar SBN, dan Rp1,85 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
===
Lebih jauh memasuki tahun 2026, pasar terpantau cukup fluktuatif pada berbagai instrumen investasi. Situasi ekonomi global dan perkembangan geopolitik terlihat diwarnai unsur ketidakpastian. Sebagian investor mungkin menyebutkan bahwa pasar sedang tidak jelas arahnya. Sebagian lagi memandang ini sebagai sebagai kesempatan untuk suatu active trading karena dinamika pasar yang lumayan belakangan ini. Tentunya ini harus didukung dengan skill dan knowledge.
Bersama vibiznews.com Anda bisa mengembangkan hal-hal tersebut secara optimum. Selamat menuai sukses Anda kembali di tahun ini, pembaca setia Vibiznews!
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting



