Bank Sentral Global Mulai Berbeda Arah: The Fed Tahan Laju, ECB Stabil, BoE Turunkan Suku Bunga, BoJ Bersiap Naikkan Suku Bunga

58
boe inggris

Ketidakpastian global belum mereda, tetapi arah kebijakan bank sentral dunia mulai menunjukkan divergensi yang semakin jelas. Di tengah pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang masih solid, inflasi yang perlahan mereda, serta dinamika geopolitik yang terus membayangi, bank sentral utama dunia kini bergerak dengan tempo dan strategi yang berbeda-beda.

Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga, Bank Sentral Eropa (ECB) justru nyaman berada dalam fase “menunggu dan mengamati”, sementara Bank of Japan (BoJ) mulai bersiap melangkah ke arah sebaliknya menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam siklus normalisasi kebijakan yang lebih tegas.

Perbedaan arah ini menjadi faktor kunci bagi pasar global, mulai dari obligasi, nilai tukar, hingga aliran modal lintas negara.

Federal Reserve: Pemangkasan Ditunda, Narasi Pertumbuhan Masih Dominan

Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed kembali mengalami penyesuaian. Jika sebelumnya pasar dan analis memperkirakan penurunan suku bunga dapat dimulai pada kuartal I, kini proyeksi tersebut mundur ke Juni, seiring data ekonomi AS yang masih menunjukkan ketahanan luar biasa.

Setelah melakukan empat kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2024 dan tiga kali pada 2025, The Fed diperkirakan hanya akan memangkas suku bunga dua kali lagi pada 2026. Hal ini mencerminkan perubahan sikap bank sentral yang menilai bahwa kebijakan moneter saat ini memang sedikit restriktif, tetapi belum cukup menekan pertumbuhan secara signifikan.

Ekonomi AS terus melaporkan pertumbuhan yang sehat, dengan pasar saham mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Konsumsi rumah tangga berpendapatan tinggi dan investasi sektor teknologi masih menjadi motor utama ekspansi ekonomi. Namun, di balik kekuatan tersebut, mulai muncul kekhawatiran struktural.

Pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda kehilangan momentum. Pertumbuhan lapangan kerja melambat, tingkat partisipasi stagnan, dan ketergantungan ekonomi pada kelompok pendapatan atas menimbulkan risiko konsentrasi pertumbuhan. Jika belanja kelompok ini melemah atau sektor teknologi mengalami koreksi tajam, dampaknya terhadap ekonomi bisa signifikan.

Dari sisi inflasi, tekanan harga pasca penerapan tarif impor oleh pemerintahan AS terbukti lebih terkendali dibandingkan kekhawatiran awal. Penurunan harga bensin, perlambatan kenaikan sewa perumahan, serta moderasi pertumbuhan upah memberikan ruang bagi inflasi untuk terus bergerak menuju target 2% The Fed.

Meski demikian, untuk memangkas suku bunga secepat Maret, mandat ganda The Fed—stabilitas harga dan lapangan kerja—harus berada di bawah tekanan yang jauh lebih kuat. Skenario tersebut hampir pasti memerlukan dua bulan berturut-turut penurunan signifikan dalam data ketenagakerjaan, sebuah kondisi yang saat ini tidak menjadi skenario dasar.

Dengan kata lain, The Fed masih memiliki alasan kuat untuk menunggu.

ECB : Pilih Tahan Arah Kebijakan di Tengah  Geopolitik Bergejolak

Jika The Fed menghadapi dilema antara pertumbuhan dan stabilitas, ECB justru berada dalam fase yang relatif tenang. Di tengah gejolak geopolitik global, ECB hampir menjadi simbol kontinuitas kebijakan.

Bank sentral zona euro menyebut posisinya saat ini sebagai berada di “tempat yang baik” ekonomi tumbuh mendekati potensi, inflasi bergerak stabil di sekitar target, dan risiko resesi jangka pendek relatif terkendali.

Namun, ketenangan ini bukan tanpa tantangan. Ketidakpastian geopolitik, mulai dari konflik regional hingga ketegangan perdagangan global, tetap menjadi bayang-bayang besar. Hingga saat ini, terdapat kesenjangan yang cukup mencolok antara eskalasi geopolitik dan dampaknya terhadap ekonomi makro.

Pertanyaannya adalah apakah kesenjangan tersebut dapat bertahan. Jika risiko geopolitik meningkat tajam atau permintaan global melemah secara signifikan, zona euro bisa kembali menghadapi tekanan pertumbuhan. Sebaliknya, jika risiko mereda, ECB dapat mempertahankan kebijakan stabil lebih lama.

Untuk saat ini, konsensus analis memperkirakan suku bunga ECB akan tetap tidak berubah sepanjang tahun ini. Dibutuhkan kejutan besar baik berupa lonjakan inflasi maupun perlambatan ekonomi yang tajam untuk memaksa ECB kembali mengubah arah kebijakan.

Bank of England: Data Mendukung Pemangkasan, Internal Masih Terbelah

Berbeda dengan ECB, Bank of England (BoE) berada dalam posisi yang lebih rumit. Data ekonomi Inggris memberikan sinyal yang cukup jelas untuk pelonggaran kebijakan, tetapi kehati-hatian internal bank sentral masih menjadi penghambat.

Pasar tenaga kerja Inggris menunjukkan pelemahan: perekrutan tenaga kerja lemah, pertumbuhan upah melambat, dan inflasi diperkirakan turun tajam hingga April. Kondisi ini mendukung ekspektasi pemangkasan suku bunga pada Maret dan Juni.

Namun, BoE masih mencermati ekspektasi pertumbuhan upah jangka menengah. Salah satu survei internal menunjukkan ekspektasi upah berada di kisaran 3,5–4%, sedikit di atas tingkat yang dianggap konsisten dengan stabilitas inflasi jangka panjang.

Sejak Desember, tidak ada perubahan fundamental yang cukup besar untuk mendorong pemangkasan lebih awal. Pemangkasan pada Februari dinilai kecil kemungkinannya. Namun, dua rilis tambahan data ketenagakerjaan dan inflasi sebelum pertemuan Maret dapat mengubah peta kebijakan secara signifikan.

Dengan komite kebijakan yang sangat terbelah antara kubu dovish dan hawkish, perubahan sikap satu atau dua anggota saja berpotensi menggeser jalur suku bunga secara drastis.

Bank of Japan: Bersiap Berbeda Arah dari Dunia

Di saat bank sentral Barat mempertimbangkan pemangkasan, Bank of Japan justru mulai condong ke arah pengetatan. BoJ mempertahankan suku bunga di 0,75% pada Januari, tetapi menaikkan proyeksi pertumbuhan dan inflasi untuk tahun fiskal 2026.

Keyakinan terhadap prospek ekonomi Jepang meningkat, didorong oleh ekspektasi kenaikan upah yang lebih kuat dalam negosiasi Shunto, penyesuaian harga yang lebih tegas pada April, serta stimulus fiskal tambahan dari pemerintah.

Ekspektasi kenaikan suku bunga berikutnya pun dimajukan dari Oktober menjadi Juni. Meski demikian, BoJ tetap berhati-hati dalam menyeimbangkan kebijakan suku bunga dan stabilitas nilai tukar yen.

Pelemahan yen berpotensi mendorong inflasi domestik, tetapi selama nilai tukar tetap di bawah level 157, BoJ masih memiliki ruang untuk bersabar. Di sisi lain, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) membuat BoJ harus semakin cermat dalam mengelola ekspektasi pasar.

Koordinasi dengan pemerintahan yang pro-stimulus juga menjadi faktor penting, terutama jika kekhawatiran fiskal mulai memengaruhi tenor jangka pendek.

Bank Sentral Global Beda Arah, Volatilitas Pasar Lebih Tinggi

 

Perbedaan arah kebijakan bank sentral global ini menegaskan satu hal: era sinkronisasi kebijakan moneter telah berakhir. Divergensi akan menjadi tema utama pasar keuangan dalam beberapa kuartal ke depan.

Bagi investor, kondisi ini berarti volatilitas nilai tukar yang lebih tinggi, perbedaan kinerja pasar obligasi antarnegara, serta kebutuhan strategi alokasi aset yang lebih selektif. Dolar AS berpotensi tetap kuat selama The Fed menunda pemangkasan, sementara yen Jepang bisa mengalami tekanan jangka pendek sebelum arah kebijakan BoJ benar-benar jelas.

Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, arah bank sentral akan tetap menjadi kompas utama pasar. Namun, seperti yang ditunjukkan dinamika terbaru, kompas tersebut kini menunjuk ke arah yang berbeda-beda.