(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
- Pasar keuangan di minggu lalu variatif dan bergerak dalam rentang konsolidasi.
- BI mempertahankan BI Rate di level 4,75%, sesuai prediksi pelaku pasar.
- Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV 2025 mencatat surplus 6,1 miliar dolar AS.
- Sentimen global saat ini sekitar dinamika geopolitik Iran, serta arah kebijakan tariff AS selanjutnya.
- Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang adalah data uang beredar pada hari Senin nanti.
Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 23-27 February 2026.
===
Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau menguat di pekan keduanya walau agak terbatas karena bergerak sideways konsolidatif, sempat mencapai hampir 3 minggu tertingginya lalu terkoreksi lagi. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya bias melemah dan fluktuatif, di tengah suasana liburan Imlek serta Kospi yang mencetak rekor. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 0,72%, atau 59,496 poin, ke level 8.271,767.
Untuk minggu berikutnya (23-27 Februari 2026), IHSG kemungkinan masih konsolidasi dalam bias menguat, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level level level 8.596 dan 8.980. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 7,861 dan bila tembus ke level 7,712.
Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu berakhir melemah, di minggu yang pendek sempat tertekan ke sebulan terendahnya lalu bangkit terbatas. Rupiah secara mingguannya berakhir melemah 31 poin atau 0,18% ke level Rp 16.870 per USD. Sementara, dollar global terpantau menguat ke sekitar 2 minggu tertingginya oleh data inflasi PCE yang lebih cepat, lalu terkoreksi setelah keputusan Supreme Court (MA) Amerika yang membatalkan kebijakan tarif resiprokal AS.
Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih uptrend lalu tertahan, atau kemungkinan rupiah bias terkoreksi secara bertahap, dalam range antara resistance di level Rp16.976 dan Rp17.050, sementara support di level Rp16.776 dan Rp16.705.
Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau turun terbatas secara mingguannya, terlihat dari pergerakan naik tipis yield obligasi dan berakhir ke level 6,458% pada akhir pekan. Sementara yields US Treasury terpantau rebound terbatas setelah 2 pekan tertekan.
===
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%.
BI menyatakan bahwa prospek perekonomian global dalam tren melambat dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diprakirakan melambat dari 3,3% pada 2025 menjadi 3,2%.
Sementara itu, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 meningkat dalam kisaran 4,9–5,7% (yoy).
Bank Indonesia juga melaporkan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV 2025 membaik sehingga mendukung ketahanan eksternal. NPI pada triwulan IV 2025 mencatat surplus sebesar 6,1 miliar dolar AS.
===
Banyak isyu ekonomi dan non ekonomi yang mewarnai pergerakan pasar dewasa ini. Termasuk di antaranya arah kebijakan suku bunga the Fed yang terindikasi terpecah dua arah belakangan ini; ataupun juga perkembangan pasar modal dan uang dalam negeri, serta tensi geopolitik kawasan Timur Tengah kembali. Kebijakan apa yang mungkin akan diambil bisa menjadi suatu permainan spekulasi pasar yang membuat harga instrumen investasi bergejolak, dan di sisi lain menimbulkan kebingungan bagi banyak pelaku investasi awam.
Apakah Anda termasuk yang ikut bingung dengan apa yang terjadi di pasar? Supaya menjadi lebih jelas disarankan simak saja terus di vibiznews.com. Kami ada demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting



