(Vibiznews-Forex) – Poundsterling dalam pair GBPUSD rally melanjutkan pemulihan akhir pekan lalu jelang akhir perdagangan forex Asia hari Senin (23/2/2026) di tengah pelemahan dolar AS.
Dolar AS menghadapi tekanan jual karena ketidakpastian tarif masih berlanjut setelah Presiden Trump menaikkan tarif timbal baliknya menjadi 15% yang berlaku selama 150 hari untuk semua jenis impornya.
Kenaikan tarif ini terjadi setelah akhir pekan lalu Mahkamah Agung AS membatalkan tarif Trump 10% sebagai ilegal dan melampaui wewenangnya.
Poundsterling pulih dari pelemahan 4 sesi berturut akhir pekan lalu setelah data penjualan ritel Inggris melonjak 1,8% MoM pada Januari, melebihi ekspektasi kenaikan 0,2%. Dan secara tahunan, penjualan ritel melonjak 4,5% pada Januari dari perkiraan kenaikan 2,8%.
Fokus pasar akan ke laporan PPI AS bulan Januari pada hari Jumat yang diperkirakan akan menunjukkan kenaikan sebesar 0,3% pada bulan Januari. Tanda-tanda inflasi yang lebih tinggi di AS dapat mengangkat dolar AS dan menciptakan hambatan bagi pair dalam jangka pendek.
Secara teknikal, pair berusaha rebound dan mendaki menuju posisi resisten harian dan analyst Vibiz Research Center memperkirakan pair semakin tertekan jika tidak mampu tembus pivot.
Kini pair berada di posisi 1.3526 yang berusaha naik menuju 1.3555 di R2, jika tembus lanjut ke resisten lemahnya di R3.
Namun jika tidak sampai tembus R2 akan berbalik arah dan turun menuju posisi 1.3475. Dan jika tembus akan lanjut turun menuju support kuatnya di S1.
| R3 | R2 | R1 | Pivot | S1 | S2 | S3 |
| 1,3598 | 1,3555 | 1,3517 | 1.3476 | 1.3437 | 1.3394 | 1.3357 |



