(Vibiznews – Commodity) Harga gula di bursa komoditi berjangka New York ditutup naik pada hari Rabu, terdukung penguatan mata uang Real Brasil.
Harga gula berjangka kontrak Maret 2026 ditutup naik 0,27% pada 14,59 sen per pon.
Harga gula naik terdukung aksi short covering setelah mata uang Real Brasil menguat ke level tertinggi 1,75 tahun terhadap dolar, yang menghambat penjualan ekspor dari produsen gula Brasil.
Harga gula awalnya turun pada hari Rabu di tengah peningkatan produksi di India, produsen gula terbesar kedua di dunia. Asosiasi Produsen Gula dan Bioenergi India (ISMA) pada hari Rabu memproyeksikan produksi gula India tahun 2025/26 sebesar 29,3 juta metrik ton, naik 12% y/y, di bawah proyeksi sebelumnya sebesar 30,95 juta metrik ton.
Tanda-tanda penurunan produksi gula di Brasil juga mendukung harga gula, setelah Unica pada Rabu lalu melaporkan bahwa produksi gula di Brasil bagian Tengah-Selatan pada paruh kedua Januari turun 36% y/y menjadi hanya 5.000 MT.
Malam nanti akan dirilis data Initial Jobless Claims AS pekan lalu yang diindikasikan meningkat.
Juga akan ada pernyataan dari pejabat Fed Bowman.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula akan mencermati pergerakan dolar AS, yang jika lanjut melemah, akan menguatkan Real Brasil dan mendorong kenaikan harga gula. Juga akan mencermati data initial jobless claims AS yang jika terealisir naik dan menekan dolar AS, akan menguatkan harga gula. Jika pernyataan pejabat Fed memberikan sinyal hawkish bagi kebijakan suku bunga dan menguatkan dolar AS, akan menekan harga gula. Harga gula diperkirakan bergerak dalam kisaran Support 14,49-14,40. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance 14,64-14,70.



