Pasar yang Variatif, Perhatian ke Geopolitik Timur Tengah dan Tariff — Domestic Market Outlook, 2-6 March 2026

93
Vibizmedia Picture

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Pasar keuangan di minggu lalu variatif, dengan rupiah terlihat bullish bertahap.
  • BI melaporkan likuiditas perekonomian atau M2 pada Januari tumbuh lebih tinggi.
  • Sentimen global saat ini sekitar tensi geopolitik perang di Iran dan kawasan Timteng, serta arah kebijakan tariff AS selanjutnya.
  • Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang adalah rilis inflasi IHK, neraca perdagangan, S&P Manufacturing PMI pada hari Senin, serta data cadangan devisa pada hari Jumat nanti.

Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 2-6 March 2026.

===

Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau dalam koreksi, sempat di sekitar sebulan tertingginya lalu terus menurun agak fluktuatif, terutama diseret kelompok saham energi dan perbankan besar. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya bias menguat, dipimpin Nikkei oleh sentimen atas kebijakan PM-nya yang pro-growth. Secara mingguan IHSG ditutup melemah 0,44%, atau 36,282 poin, ke level 8.235,485.

Untuk minggu berikutnya (2-6 Maret 2026), IHSG kemungkinan dalam konsolidasi dengan bias terkoreksi, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level level level 8.437 dan 8.596. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 7,861 dan bila tembus ke level 7,712.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu berakhir rebound, sempat melaju ke sebulan tertingginya lalu dipangkas gain-nya di hari terakhir. Rupiah secara mingguannya berakhir menguat 105 poin atau 0,62% ke level Rp 16.765 per USD. Sementara, dollar global terpantau sideways di bawah sekitar 2 minggu tertingginya, sebagian diangkat data inflasi PPI yang melebihi estimasi.

Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan akan stabil lalu downtrend, atau kemungkinan rupiah bias menguat secara bertahap, dalam range antara resistance di level Rp16.880 dan Rp16.928, sementara support di level Rp16.705 dan Rp16.690.

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau naik terbatas secara mingguannya, terlihat dari pergerakan turun tipis yield obligasi dan berakhir ke level 6,411% pada akhir pekan. Sementara yields US Treasury terpantau merosot setelah rebound terbatas.

===

Bank Indonesia melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 tumbuh lebih tinggi. Pada Januari 2026, M2 tumbuh sebesar 10,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 9,6% (yoy) sehingga mencapai Rp10.117,8 triliun.

Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,9% (yoy) dan uang kuasi sebesar 5,4% (yoy).

===

 

Pasar investasi nampaknya masih akan terus bergejolak. Ketidakpastian arah pelonggaran kebijakan moneter bank sentral global, dinamika dan tantangan perdagangan internasional, serta tensi geopolitik Timur Tengah yang memanas terutama di Iran, menimbulkan harga yang volatile untuk sejumlah pilihan investasi, serta tentunya koreksi di sana-sini.  Gejolak pasar bisa berbentuk volatilitas yang tinggi pada satu periode, dapat juga berupa gelombang naik turun dalam irama yang diwarnai dengan ketidakpastian di periode waktu yang lainnya.

Memang demikian situasi dan kondisi pasar. Untuk ambil keuntungan terhadap pasarnya, nampaknya, kitalah yang harus menambahkan pengetahuan dan keahlian (skill) dalam berinvestasi. Bagaimanapun, tidak ada salahnya seseorang untuk menambah pengetahuan dan skill. Itu suatu bentuk investasi tersendiri juga. Untuk itu, Anda dapat belajar bersama vibiznews.com. Terimakasih bagi Anda yang telah tetap bersama dengan kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting