Pasar Bearish Dipengaruhi Sentimen Eksternal, Harapan ke Negosiasi Perang — Domestic Market Outlook, 30 March – 2 April 2026

92
Vibizmedia Picture

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Pasar keuangan di minggu lalu –setelah libur panjang—variatif, dengan IHSG berlanjut bearish di tengah berlanjutnya konflik Timur Tengah.
  • BI merilis uang beredar (M2) tumbuh 8,7% (yoy)pada Februari 2026.
  • Sentimen global saat ini tetap sekitar konflik Timur Tengah termasuk perkembangan negosiasinya, volatilitas harga minyak mentah dunia, serta risiko inflasi global.
  • Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini adalah rilis inflasi IHK, data neraca perdagangan, serta S&P Manufacturing PMI Indonesia, semuanya pada hari Rabu nanti.

Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 30 March – 2 April 2026.

===

Minggu yang baru lewat –minggu pendek setelah libur panjang Lebaran– IHSG di pasar modal Indonesia terpantau kembali terkoreksi di pekan kelima, walau berkurang terbatas oleh pergerakan yang sideways, namun kembali mendekati area 8,5 bulan terendahnya. Perdagangan saham ditarik sektor utilitas, bahan baku, dan teknologi yang keseluruhannya ditekan sentimen negatif dari belum jelasnya perkembangan negosiasi perang antara AS – Iran, keraguan kapan berakhirnya perang, serta volatilitas dan menanjaknya lagi harga minyak mentah dunia. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya bias melemah, di tengah konflik perang Timur Tengah yang berkepanjangan dan ancaman inflasi global yang dipicu sektor energi. Secara mingguan IHSG dalam dua hari pasar ditutup melemah tipis 0,14%, atau 9,782 poin, ke level 7.097,057.

Untuk minggu berikutnya (30 Maret – 2 April 2026) –dipotong libur Jumat Agung– IHSG kemungkinan masih downtrend oleh sentimen tekanan jual dari Wall Street dan regional, namun akan ada sesi konsolidasi sejenak, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 7.527 dan 7.765. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6,917 dan bila tembus ke level 6,838.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu berakhir rebound namun terbatas oleh pergerakan yang fluktuatif, dan terakhirnya kembali mendekati area rekor terendahnya. Rupiah secara mingguannya berakhir menguat 20 poin atau 0,12% ke level Rp 16.960 per USD. Sementara, dollar global terpantau terus rally ke level 1,5 minggu tertingginya, dipicu kembali naiknya permintaan dollar sebagai safe haven di tengah eskalasi tensi geopolitik perang Timur Tengah.

Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih uptrend namun sempat tertahan, atau kemungkinan rupiah bias terkoreksi ke sekitar rekor terendah sepanjang sejarahnya, dalam range antara resistance di level Rp16.995 dan Rp17.040, sementara support di level Rp16.856 dan Rp16.753.

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau stabil secara mingguannya, terlihat dari pergerakan melandai yield obligasi dan berakhir ke level 6,848% pada akhir pekan. Sementara yields US Treasury terpantau menanjak naik di minggu keempat.

===

Bank Indonesia melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada Februari 2026. Posisi M2 pada Februari 2026 tercatat sebesar Rp10.089,9 triliun atau tumbuh sebesar 8,7% (yoy), setelah pada Januari 2026 tumbuh sebesar 10,0% (yoy).

Perkembangan M2[1] pada Februari 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit.

===

 

Variasi pasar kembali menampakkan dirinya belakangan ini. Di tengah situasi geopolitik panas dalam perang Timur Tengah serta kurang jelasnya arah kebijakan moneter bank sentral global berikutnya, sebagian pasar tampil dalam gerak fluktuatif. Gejolak pasar sendiri kalau kita perhatikan bisa berbentuk volatilitas yang tinggi pada satu periode –seperti yang kerap terjadi belakangan ini– dapat juga berupa gelombang naik turun dalam irama yang diwarnai dengan ketidakpastian di periode waktu yang lainnya. Memang demikian situasi dan kondisi pasar.

Untuk ambil keuntungan terhadap pasarnya, nampaknya, kitalah yang harus menambahkan pengetahuan dan keahlian (skill) dalam berinvestasi. Bagaimanapun, tidak ada salahnya sama sekali seseorang untuk menambah pengetahuan dan skill. Itu suatu bentuk investasi tersendiri juga. Untuk itu, Anda dapat belajar bersama vibiznews.com. Terimakasih tetap bersama dengan kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting