
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat kembali mengalami perubahan signifikan. Jika dalam beberapa bulan terakhir pelaku pasar masih berharap adanya penurunan suku bunga acuan oleh Federal Reserve, kini sebagian analis justru melihat kemungkinan sebaliknya: kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Ed Yardeni, Presiden Yardeni Research, yang menilai bank sentral AS kemungkinan harus menaikkan suku bunga pada Juli untuk merespons tekanan dari pasar obligasi, khususnya kelompok investor yang dikenal sebagai “bond vigilantes”.
Istilah bond vigilantes merujuk pada investor obligasi yang menjual surat utang pemerintah ketika menilai kebijakan fiskal atau moneter terlalu longgar dan berpotensi memicu inflasi. Aksi jual tersebut mendorong kenaikan yield obligasi, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pinjaman di seluruh perekonomian.
Menurut Yardeni, kondisi saat ini menunjukkan bahwa pasar obligasi mulai kehilangan keyakinan terhadap arah kebijakan moneter The Fed di bawah kepemimpinan barunya, Kevin Warsh.
“The Fed harus mengejar pasar obligasi untuk menghindari kehilangan kendali atas biaya pinjaman dan untuk meredam bond vigilantes,” tulis Yardeni dalam catatan riset terbarunya.
Pernyataan tersebut menandai perubahan besar dalam narasi pasar. Sebelumnya, banyak pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mulai memangkas suku bunga untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Namun lonjakan inflasi terbaru dan kenaikan tajam yield Treasury telah mengubah ekspektasi tersebut.
Pasar Tidak Lagi Percaya pada Skenario Pemangkasan
Data terbaru menunjukkan pasar kini mulai meragukan peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Bahkan, menurut alat FedWatch milik CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga hingga akhir tahun telah mencapai 42%.
Meski probabilitas kenaikan pada Juli masih relatif rendah, sekitar 4,2%, Yardeni menilai angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan tekanan yang sedang terbentuk di pasar obligasi.
Ia memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juni, tetapi membuka jalan bagi langkah yang lebih agresif pada Juli.
Dalam pandangannya, sinyal awal pengetatan dapat terlihat jika The Fed menghapus bahasa forward guidance dalam pernyataan pasca-rapat yang selama ini ditafsirkan pasar sebagai petunjuk bahwa langkah kebijakan berikutnya adalah penurunan suku bunga.
Langkah tersebut, menurut Yardeni, akan menjadi pesan tegas bahwa bank sentral tetap fokus pada stabilitas harga dan tidak tunduk pada tekanan politik maupun ekspektasi pasar jangka pendek.
Tantangan Kevin Warsh Hadapi Inflasi AS
Sorotan utama pasar kini tertuju pada Kevin Warsh, yang baru mengambil alih posisi ketua The Fed.
Sebelum menjabat, Warsh sempat menyampaikan pandangan yang cenderung dovish. Ia menyatakan bahwa suku bunga acuan The Fed yang saat ini berada pada kisaran target 3,5% hingga 3,75% memiliki ruang untuk diturunkan.
Namun sejak pernyataan tersebut disampaikan, kondisi makroekonomi berubah drastis.
Lonjakan inflasi yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya perang Iran, ditambah tekanan harga dari sejumlah faktor struktural lainnya, telah memaksa pasar merevisi ekspektasi kebijakan moneter.
Dalam konteks ini, Yardeni menilai Warsh menghadapi dilema besar.
Di satu sisi, ia datang dengan ekspektasi untuk mendukung pelonggaran kebijakan guna menurunkan biaya pinjaman. Di sisi lain, tekanan pasar obligasi menuntut respons yang lebih hawkish.
“Warsh akan menjadi pihak yang berbeda pandangan dalam rapat FOMC, tetapi sebagai ketua baru, pasar obligasi bereaksi negatif terhadap sikap dovish-nya,” tulis Yardeni.
Jika Warsh gagal menunjukkan ketegasan menghadapi inflasi, pasar bisa merespons dengan aksi jual Treasury lebih lanjut.
Lonjakan Yield Perkuat Sinyal Kenaikan Suku Bunga
Kekhawatiran pasar tercermin dari lonjakan yield obligasi pemerintah AS.
Yield Treasury tenor 30 tahun sempat menembus level psikologis 5%, tertinggi dalam hampir satu tahun. Pada perdagangan terbaru, yield bertahan di sekitar 5,138%.
Sementara itu, yield Treasury tenor 2 tahun yang lebih sensitif terhadap ekspektasi suku bunga berada di kisaran 4,07%.
Kenaikan yield jangka panjang memiliki implikasi luas bagi perekonomian.
Ketika yield Treasury naik, suku bunga pinjaman konsumen seperti KPR, kredit kendaraan, hingga pembiayaan korporasi ikut terdorong naik. Ini dapat memperlambat aktivitas ekonomi meskipun The Fed tidak secara langsung menaikkan suku bunga acuannya.
Inilah alasan mengapa Yardeni menilai The Fed harus segera bertindak.
Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan justru dapat menenangkan pasar apabila dipandang sebagai sinyal keseriusan bank sentral dalam mengendalikan inflasi.
“Kenaikan suku bunga yang mengejutkan justru bisa menyenangkan pasar,” tulisnya.
Kenaikan Suku Bunga Bisa Turunkan Yield Obligasi
Pandangan Yardeni mengandung paradoks yang menarik.
Secara tradisional, kenaikan suku bunga dianggap memperketat kondisi keuangan dan meningkatkan biaya pinjaman. Namun dalam situasi saat ini, langkah hawkish justru bisa menurunkan yield obligasi jangka panjang jika pasar percaya inflasi akan lebih terkendali.
Dengan kata lain, menaikkan suku bunga jangka pendek bisa menjadi cara untuk menurunkan biaya pinjaman jangka panjang.
Yardeni menilai strategi ini dapat memberikan manfaat politik dan ekonomi yang signifikan.
Jika yield jangka panjang turun, suku bunga hipotek dapat ikut menurun, biaya pendanaan korporasi menjadi lebih ringan, dan aktivitas investasi berpotensi pulih.
Ia bahkan menyebut langkah tersebut dapat memberikan kemenangan naratif bagi Gedung Putih.
“Dengan bertindak hawkish, Warsh mungkin justru dapat mewujudkan apa yang diinginkan pemerintah: biaya pinjaman riil yang lebih rendah,” katanya.
Prediksi Yardeni Berseberangan dengan Wall Street
Meski demikian, proyeksi Yardeni masih berada di luar konsensus mayoritas ekonom.
Sebagian besar analis Wall Street masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga hingga akhir kuartal ketiga sebelum mempertimbangkan langkah berikutnya.
Pasar derivatif pun belum sepenuhnya mengantisipasi kenaikan suku bunga pada Juli.
Hal ini membuat prediksi Yardeni menjadi salah satu pandangan paling agresif di antara analis makro saat ini.
Namun rekam jejak Yardeni dalam membaca dinamika pasar obligasi membuat pandangannya tetap diperhatikan secara serius oleh investor institusional.
Sebagai pencetus istilah bond vigilantes, ia telah lama mengamati bagaimana tekanan pasar dapat memaksa bank sentral menyesuaikan kebijakan, bahkan ketika langkah tersebut bertentangan dengan ekspektasi awal.
Fokus Pasar Tertuju pada Pertemuan Juni
Dalam jangka pendek, perhatian investor kini tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Juni.
Meskipun hampir tidak ada ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan tersebut, setiap perubahan bahasa dalam pernyataan resmi The Fed akan dicermati secara mendalam.
Jika The Fed mulai menghapus sinyal dovish atau menekankan risiko inflasi secara lebih tegas, pasar dapat segera menyesuaikan pricing terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada Juli.
Sebaliknya, jika Warsh mempertahankan nada dovish, risiko lonjakan yield Treasury lebih lanjut dapat meningkat.
Untuk saat ini, satu hal menjadi jelas: arah kebijakan moneter AS tidak lagi hanya ditentukan oleh data ekonomi atau preferensi pejabat bank sentral.
Pasar obligasi kini memegang peran sentral.
Dan menurut Yardeni, jika The Fed ingin mempertahankan kredibilitasnya, bank sentral mungkin tidak punya banyak pilihan selain mengikuti pesan yang sudah disampaikan pasar.




