Dua Bank Sentral Beraksi Hari Ini: BOJ Bersiap Kebijakan Spektakuler, RBA Pilih Menahan Diri

110

(Vibiznews – Economy) – Dua bank sentral di kawasan  Asia Pasifik hari ini Selasa (16/6/2026) akan mengumumkan kebijakan moneternya yang dapat mempengaruhi nilai mata uang kedua negara tersebut.

Bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) diperkirakan akan mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1%, level tertinggi sejak 1995.

Kenaikan ini dimaksudkan tidak hanya untuk mengatasi tekanan inflasi yang meningkat tetapi juga untuk memperkuat Yen Jepang (JPY).

Gubernur Kazuo Ueda, yang dirawat di rumah sakit minggu lalu, tidak akan menghadiri pertemuan kebijakan moneter. Wakil Gubernur Ryozo Himino akan memimpin pertemuan kebijakan tersebut, sementara Wakil Shinichi Uchida akan mengadakan konferensi pers setelah keputusan tersebut.

Menurut analis Vibiz Research Center, proyeksi  kenaikan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 1% bukanlah langkah biasa bagi Jepang. Ini adalah keputusan yang sangat signifikan secara struktural. Dikarenakan Jepang selama puluhan tahun terkenal dengan kebijakan suku bunga negatif atau sangat rendah untuk melawan deflasi.

 

Bank sentral Australia atau The Reserve Bank of Australia (RBA) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga resmi (Official Cash Rate) tidak berubah di 4,35%.

Jika terjadi maka akan menjadi jeda setelah tiga kenaikan suku bunga berturut-turut yang dilakukan awal tahun ini. Keputusan tersebut akan diumumkan disertai dengan Pernyataan Kebijakan Moneter (MPS).

Untuk Konferensi pers Gubernur RBA Michele Bullock akan menyusul beberapa jam setelah diumumkan, dapat memicu reaksi besar pada dolar Australia (AUD), karena pasar dengan penuh harap menunggu sinyal tentang arah kebijakan bank sentral ke depan terkait suku bunga. 

Menurut analis Vibiz Research Center, RBA memilih untuk menginjak rem  setelah melakukan pengetatan moneter di awal tahun.  Dengan mempertahankan suku bunga di level 4,35%, sepertinya  RBA ingin melihat sejauh mana dampak dari tiga kenaikan suku bunga berturut-turut sebelumnya terhadap perekonomian Australia.