Bursa Wall Street Kamis Ditutup Melemah Terpicu Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

56
Pasar Saham
New York Stock Exchange - Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Index) – Bursa Saham Wall Street pada penutupan pasar hari Kamis waktu AS (Jumat pagi WIB, 7 Agustus 2026) berakhir melemah serempak, mengakhiri reli penguatan yang sempat berlangsung pada hari-hari sebelumnya. Pelemahan ini terjadi akibat kombinasi kekhawatiran geopolitik, kinerja mengecewakan dari sejumlah emiten teknologi, serta aksi ambil untung setelah pasar mencatatkan reli yang cukup kuat sepanjang pekan.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup merosot -0,85% atau 464,02 poin ke level 53.885, memutus reli kenaikan lima hari berturut-turut yang sebelumnya sempat membawa indeks ke level rekor. Indeks S&P 500 ditutup melemah -0,18% ke posisi 7.709,96, sementara indeks Nasdaq Composite ditutup turun tipis -0,06% ke level 26.348,35.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan utama pelaku pasar pada sesi perdagangan kali ini. Investor mengkhawatirkan ketidakpastian situasi keamanan, khususnya terkait jalur logistik kritis di Selat Hormuz, yang langsung memicu lonjakan harga minyak mentah global dan memberikan tekanan tambahan bagi pasar saham.

Dari sisi korporasi, kinerja sejumlah perusahaan teknologi (Big Tech) turut membebani pasar. Beberapa emiten teknologi merilis laporan keuangan serta proyeksi bisnis yang mengecewakan ekspektasi investor, sehingga memperberat langkah indeks sektor teknologi seperti Nasdaq yang sempat memimpin reli pada beberapa hari sebelumnya.

Aksi ambil untung (profit taking) turut mewarnai perdagangan hari Kamis. Setelah mencatatkan reli kuat serta rentetan rekor tertinggi pada perdagangan-perdagangan sebelumnya, banyak pelaku pasar memanfaatkan momentum ini untuk mengunci keuntungan, sehingga melemahkan pergerakan seluruh indeks utama secara bersamaan.

Sikap wait and see investor menjelang rilis data ketenagakerjaan turut menambah kehati-hatian pasar. Investor cenderung menahan diri menjelang rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) periode Juli yang dijadwalkan keluar pada hari Jumat waktu AS, mengingat data tersebut merupakan indikator penting bagi bank sentral AS (The Federal Reserve) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan bursa Wall Street pada sesi perdagangan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh hasil rilis data Non-Farm Payrolls Juli serta perkembangan lebih lanjut terkait situasi geopolitik di Selat Hormuz, sembari pasar tetap mencermati kelanjutan laporan kinerja emiten-emiten teknologi berkapitalisasi besar lainnya.