Indeks Kospi Jumat Ditutup Turun Tertekan Aksi Jual Investor Asing

48
kospi

(Vibiznews – Index) Bursa saham Korea Selatan kembali ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Jumat, 7 Agustus 2026, memperpanjang tren koreksi bursa Seoul untuk hari kedua berturut-turut. Pelemahan ini dipicu oleh tekanan jual investor asing yang dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik global serta volatilitas tinggi yang masih membayangi sektor semikonduktor.

Indeks acuan Korea Composite Stock Price Index (Kospi) ditutup melemah 37,61 poin, atau turun 0,60 persen, dan berakhir pada level 6.258,77. Indeks dibuka menguat di level 6.365,07 dari penutupan kemarin di 6.296,38, bahkan sempat menyentuh level tertinggi intraday di 6.415,60 pada awal sesi, sebelum akhirnya berbalik tertekan dan merosot dalam hingga menyentuh level terendah harian di 6.158,73. Volume perdagangan tercatat cukup tipis, sekitar 297,18 juta lembar saham.

Faktor utama yang menekan pergerakan indeks hari ini adalah aksi jual bersih investor asing yang cukup masif, seiring meningkatnya kembali eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mengikis selera risiko pemodal global. Selain itu, kekhawatiran atas keberlanjutan belanja teknologi kecerdasan buatan serta persaingan ketat dari produsen China turut membayangi bursa Seoul, dengan saham raksasa memori SK Hynix ambles 4,88% ke level 1.422.000 won, sementara Samsung Electronics hanya mampu naik tipis 0,22%.

Di sisi lain, kesabaran investor ritel domestik mulai teruji akibat penurunan tajam KOSPI dalam beberapa bulan terakhir dari level puncaknya. Terjadi aliran modal keluar yang cukup besar, di mana investor lokal beralih memburu aset-aset pasar saham Amerika Serikat, yang pada gilirannya turut menekan nilai tukar mata uang won. Fenomena eksodus investor ritel yang kerap dijuluki “ants” ini menjadi salah satu sumber tekanan tambahan bagi bursa domestik di tengah situasi pasar yang belum sepenuhnya stabil.

Pelaku pasar juga tampak membatasi transaksi besar dan cenderung bersikap wait-and-see menjelang rilis data Non-Farm Payrolls Amerika Serikat malam nanti. Data ketenagakerjaan tersebut dinilai krusial untuk memproyeksikan arah kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan September mendatang, sehingga banyak investor memilih menahan diri dari transaksi agresif hingga kepastian data tersebut diperoleh.