(Vibiznews – Commodity) – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau CPO di Bursa Malaysia Derivatives terpantau bergerak melemah pada perdagangan hari ini, Jumat (7/8/2026). Kontrak acuan ditutup melemah tipis ke kisaran RM4.686 per metrik ton, melanjutkan tren koreksi yang sebelumnya juga terlihat dari langkah pemerintah Indonesia menetapkan Harga Referensi atau HR CPO periode Agustus 2026 turun menjadi US$996,52 per metrik ton.
Pelemahan harga sawit dunia hari ini utamanya dipicu oleh lesunya permintaan dari negara-negara importir utama. Volume permintaan dari India, sebagai salah satu pembeli terbesar CPO global, terpantau melambat lantaran pelaku pasar di negara tersebut tengah menyeimbangkan tingkat stok minyak nabati dalam negeri mereka. Kondisi ini membuat tekanan jual di pasar berjangka semakin membesar, mengingat permintaan dari India kerap menjadi salah satu indikator utama arah harga sawit dunia.
Selain faktor permintaan, pasar juga dibayangi oleh ekspektasi kenaikan produksi musiman di wilayah Asia Tenggara. Proyeksi peningkatan output dan stok cadangan sawit tersebut mendorong pelaku pasar melakukan penyesuaian teknis, sehingga harga di bursa berjangka Malaysia maupun Indonesia bergerak ke zona merah. Tekanan ini semakin diperberat oleh pergerakan harga minyak kedelai atau soyoil di bursa Chicago Board of Trade yang melemah, membuat minyak kedelai menjadi relatif lebih kompetitif dibandingkan CPO dan turut membatasi ruang penguatan harga sawit dunia.
Meski demikian, koreksi harga CPO hari ini tidak berlangsung terlalu dalam berkat sejumlah faktor penahan. Implementasi wajib program biodiesel B50 di Indonesia masih menjadi benteng insentif kuat bagi harga sawit, mengingat kebijakan tersebut menyerap volume CPO domestik dalam jumlah besar setiap tahunnya. Di sisi lain, laporan harian komoditas turut mencatat adanya disrupsi pasokan akibat lonjakan harga solar nonsubsidi yang digunakan untuk operasional alat berat di sentra produksi seperti Sabah, Sarawak, dan Sumatra. Kondisi ini memicu kekhawatiran atas potensi penurunan produktivitas panen dalam jangka panjang, sehingga turut menahan harga CPO agar tidak merosot lebih dalam pada perdagangan hari ini.








