Rekomendasi Harga Gula 7 Agustus 2026 : Naik Terpicu Penurunan Pasokan Global

50

(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi internasional bergerak menguat signifikan pada perdagangan hari Jumat, tertopang oleh akumulasi sentimen kekhawatiran pasokan global yang membawa harga komoditas pemanis tersebut menyentuh level tertinggi dalam satu bulan terakhir.

Harga kontrak berjangka gula mentah dunia atau raw sugar NY-11 terpantau diperdagangkan menguat dan bertengger di level 15,57 sen dolar AS per pon. Sejalan dengan pergerakan di bursa New York, harga gula putih berjangka kontrak acuan di bursa London atau white sugar ICE #5 juga ditutup melonjak naik ke level 486,90 dolar AS per metrik ton.

Kenaikan tajam harga gula sepanjang sesi perdagangan pekan ini dipicu oleh akumulasi sejumlah sentimen kritis. Faktor utama datang dari anjloknya produksi gula Brasil, di mana laporan terbaru dari asosiasi industri Unica menunjukkan penurunan drastis produksi tebu di wilayah Center-South Brasil sebesar 26,3 persen secara tahunan menjadi hanya 3,903 juta metrik ton. Mengingat Brasil merupakan eksportir gula terbesar dunia, penurunan pasokan ini langsung memicu reli harga di bursa berjangka.

Selain itu, ancaman defisit pasokan global untuk musim tanam 2026/2027 turut membayangi pasar, setelah lembaga riset komoditas internasional merevisi neraca gula global dengan proyeksi yang lebih buruk dari sebelumnya. Ketidakpastian cuaca di India selaku produsen gula terbesar kedua dunia juga menambah tekanan sentimen, di mana meskipun curah hujan sempat membaik, pelaku pasar masih mengkhawatirkan anomali iklim yang berpotensi membuat India terus membatasi keran ekspornya demi mengamankan stok domestik.

Faktor lain yang turut mengerek harga gula adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang mendekati 4 persen akibat tensi geopolitik di Selat Hormuz. Mahalnya harga minyak mendorong pabrik penggilingan tebu, khususnya di Brasil, untuk lebih memilih mengalihkan pemrosesan tebu menjadi bahan bakar etanol ketimbang kristal gula, sehingga semakin menekan pasokan gula di pasar global.

Sementara itu, untuk pasar domestik Indonesia, dampak lanjutan dari fenomena El Nino kuat turut menjadi sorotan. Rilis data komoditas menunjukkan produksi tebu nasional diproyeksikan menurun hingga ke angka 35 juta metrik ton. Kondisi ini memicu tren harga gula konsumsi ritel dalam negeri tetap bertahan tinggi di kisaran Rp17.500 per kilogram, seiring adanya penyesuaian biaya modal impor.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah masih berpotensi melanjutkan tren penguatan seiring belum meredanya sentimen defisit pasokan global dan gangguan produksi di negara-negara produsen utama. Harga gula mentah diperkirakan bergerak menguji kisaran Resistance 15,65-15,90. Namun, jika muncul aksi ambil untung dari para pedagang setelah reli tajam sepekan terakhir, pergerakan berpotensi terkoreksi menuju kisaran Support 15,30-15,10.