(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS berakhir naik pada hari Kamis, terdukung penguatan data tenaga kerja dan harga minyak.
Indeks dolar AS ditutup naik 0,31% pada 99,96.
Dolar AS menguat setelah klaim tunjangan pengangguran mingguan naik lebih rendah dari perkiraan, produktivitas sektor non-pertanian (nonfarm) kuartal kedua naik lebih tinggi dari perkiraan, dan biaya tenaga kerja per unit kuartal kedua naik lebih rendah dari perkiraan.
Klaim awal tunjangan pengangguran mingguan AS naik +1.000 menjadi 199.000, menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dibandingkan perkiraan sebesar 205.000.
Produktivitas sektor non-pertanian AS kuartal kedua naik +1,4%, lebih kuat dari perkiraan +0,6%. Biaya tenaga kerja per unit kuartal kedua naik +1,3%, lebih rendah dari perkiraan +2,1%.
Penguatan dolar AS semakin bertambah setelah harga minyak mentah WTI naik lebih dari +2%, yang memicu ekspektasi inflasi dan menjadi faktor pendukung kebijakan *hawkish* The Fed.
Dolar juga mendapat dukungan dari laporan Financial Times pada hari Kamis yang menyebutkan bahwa Ketua The Fed, Warsh, bersedia menaikkan suku bunga pada pertemuan FOMC bulan September jika inflasi menguat dan ekspektasi pasar semakin condong ke arah pengetatan kebijakan dalam beberapa bulan mendatang.
Pasar memperhitungkan probabilitas sebesar 58% untuk kenaikan suku bunga sebesar +25 basis poin (bp) pada pertemuan FOMC berikutnya tanggal 15-16 September.
Malam nanti akan dirilis data Non Farm Payrolls Juli AS yang diindikasikan meningkat.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS akan bergerak naik terpicu penguatan data tenaga kerja dan kenaikan harga minyak. Juga jika malam nanti data Non Farm Payrolls Juli AS terealisir meningkat, akan menguatkan dolar AS. Indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance 100,11-100,26. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support 99,72-99,48.








