Rekomendasi Harga Gula 18 September 2026

58

(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi berjangka internasional bergerak terkoreksi terbatas pada perdagangan hari Jumat, melanjutkan tren pelemahan dari sesi sebelumnya akibat tekanan teknikal serta meningkatnya pasokan jangka pendek di pasar global.

Pada penutupan perdagangan Kamis malam, kontrak berjangka gula mentah acuan nomor 11 di bursa ICE New York ditutup melemah 2,52 persen atau turun 0,45 sen ke level 17,43 sen per pon, setelah bergerak dalam rentang harian antara 17,35 hingga 17,90 sen per pon dan menembus batas bawah psikologis 17,50 sen. Pelemahan ini sejalan dengan pasar komoditas London, di mana harga gula kristal putih ditutup menyusut 1,80 persen ke level 514,50 dolar AS per ton.

Pergerakan harga komoditas pemanis sepanjang hari ini didikte oleh imbas melandainya harga minyak mentah global (WTI dan Brent) ke kisaran 101 hingga 103 dolar AS per barel. Penurunan harga minyak bumi membuat produksi bahan bakar nabati etanol berbasis tebu menjadi kurang menguntungkan bagi pabrik penggilingan di Brasil. Akibatnya, pabrik-pabrik cenderung mengalihkan lebih banyak proporsi jus tebu untuk diolah menjadi gula kristal ketimbang etanol, yang memicu kekhawatiran bertambahnya pasokan gula di pasar dunia.

Tekanan jual kian bertambah menyusul laporan operasional dari wilayah Tengah-Selatan Brasil. Kondisi cuaca yang cenderung kering dalam beberapa hari terakhir memperlancar aktivitas tebang, angkut, dan giling tebu di perkebunan. Percepatan pasokan fisik yang masuk ke pelabuhan ekspor ini efektif meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kelangkaan pasokan jangka pendek.

Meskipun demikian, laju koreksi harga gula mentah tertahan dari penurunan yang lebih dalam berkat melemahnya indeks Dolar AS, seiring dengan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level 4,93 persen. Pelemahan dolar membuat komoditas berdenominasi mata uang Negeri Paman Sam tersebut menjadi relatif lebih terjangkau bagi para pembeli internasional.

Selain itu, penurunan harga saat ini dinilai oleh analis bersifat temporer mengingat fundamental jangka panjang masih dibayangi oleh proyeksi defisit pasokan global dari Organisasi Gula Internasional (ISO), menyusul ancaman penurunan panen bit gula di Eropa Barat serta dampak lanjutan anomali iklim di kawasan Asia Selatan.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguji batas bawah, tertekan oleh percepatan panen Brasil dan pergeseran bauran gula. Harga diperkirakan akan bergerak menguji kisaran support di 17,30 hingga 17,15. Namun apabila tekanan jual mereda dan aksi beli teknikal kembali muncul, pergerakan harga berpotensi berbalik mengarah pada kisaran resistance 17,75 hingga 17,95.