Rally Pasar; Arah Berikutnya di Tengah Dinamika Geopolitik? — Domestic Market Outlook, 10-14 August 2026

80

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Pasar keuangan di minggu lalu positif, IHSG dan rupiah rally
  • BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II sebesar 5,29% (yoy).
  • Inflasi IHK Juli tercatat sebesar 2,88% (yoy), turun dari bulan sebelumnya.
  • PMI Manufaktur S&P Global Indonesia Juli naik ke 50,2.
  • Pasar menantikan pengajuan nama Gubernur BI yang baru minggu mendatang.
  • Sentimen global saat ini masih sekitar tensi geopolitik Timur Tengah, gejolak harga minyak dunia, serta ancaman tekanan inflasi global.
  • Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini adalah rilis indeks keyakinan konsumen Juli pada hari Senin; data penjualan ritel Juni di hari Jumat nanti.

 

Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 10-14 August 2026.

===

Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau rally di pekan kelimanya, mencapai level 11 minggu terkuatnya, ditopang kenaikan sektor teknologi dan barang baku, dalam pergerakan yang terbatas dan bertahap. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya mixed bias menguat dengan pergerakan fluktuatif di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah. Secara mingguan IHSG ditutup menguat cukup signifikan 2,78%, atau 173,528 poin, ke level 6.409,654.

Untuk minggu berikutnya (10-14 Agustus 2026), IHSG kemungkinan cenderung bias positif namun akan mulai diincar profit taking pendek, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 6.460 dan 6.631. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6,212 dan bila tembus ke level 6,029.

 

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu bergerak rebound walau agak fluktuatif, mencapai level 2 minggu tertingginya, tertutama di 3 hari terakhir pasar, di tengah menurunnya kekuatan dollar. Rupiah secara mingguannya berakhir menguat 105 poin atau 0,58% ke level Rp17.885 per USD. Sementara, dollar global bearish ke level sekitar 1,5 bulan terendahnya oleh lemahnya data lapangan pekerjaan AS yang mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga the Fed yang segera tahun ini.

Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih bisa turun dan sideways, atau rupiah kemungkinan bias menguat dan berkonsolidasi, dalam range antara resistance di level Rp18.090 dan Rp18.126, sementara support di level Rp17.845 dan Rp17.690.

 

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau naik terbatas secara mingguannya, terlihat dari pergerakan turun tipis yield obligasi dan berakhir ke level 7,301%. Sementara yields US Treasury terpantau dalam koreksi.

===

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 mencatat defisit sebesar 0,45 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan dengan defisit bulan sebelumnya sebesar 1,61 miliar dolar AS. Defisit neraca perdagangan yang lebih rendah terutama bersumber dari surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, IHK pada Juli 2026 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,14% (mtm), sehingga secara tahunan IHK mengalami inflasi sebesar 2,88% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 3,34% (yoy).

Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebesar 5,29% (yoy) pada triwulan II 2026 ditopang terutama oleh industri manufaktur atau pengolahan dari sisi lapangan usaha, serta konsumsi rumah tangga dari sisi pengeluaran.

Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia untuk bulan Juli 2026 naik ke 50,2 dari 46,9 pada bulan sebelumnya.

===

Dinamika harga instrumen investasi sebagian kadang diwarnai pasar yang sedang konsolidasi. Di balik konsolidasi, pengertiannya itu seperti kalau kita sedang naik tangga terus, maka ada waktunya kita ingin istirahat sejenak. Itulah dia konsolidasi! Pasar agak dalam “range-bound” dengan rentang harga yang agak sempit. Konsolidasi juga berarti pasar sedang melihat-lihat situasi pasar yang mungkin sedang diwarnai oleh, pada saat ini, arah perkembangan ekonomi berikutnya.

Dalam situasi seperti ini, Anda pun tetap dapat mengalami profit. Caranya; mungkin Anda perlu belajar. Mari belajar bersama pelatihan yang ada di VBLC, pastinya itu akan bermanfaat. Kembali, salam sukses bagi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting