(Vibiznews – Index) Indeks Nikkei Jepang ditutup melonjak tajam pada perdagangan hari ini, Senin, 10 Agustus 2026, mencatatkan level penutupan tertinggi dalam hampir empat pekan terakhir sejak pertengahan Juli, ditopang oleh kembalinya reli sektor teknologi, mikrochip, dan kecerdasan buatan.
Indeks Nikkei 225 ditutup menguat 2,08% dan berakhir di level 66.970,22. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, pergerakan indeks terpantau sangat agresif. Setelah dibuka di level 65.905,10 dari posisi penutupan sebelumnya di 65.606,71, indeks terus melaju hingga menyentuh level tertinggi harian di 67.006,84, dengan level terendah harian tercatat di 65.848,58. Sebagai catatan, rekor tertinggi 52 minggu indeks saat ini berada di 72.831,73, sementara rekor terendahnya di 41.835,17.
Penguatan tajam bursa Tokyo hari ini didorong oleh beberapa katalis utama. Pertama, reli sektor teknologi, mikrochip, dan AI. Katalis utama hari ini datang dari kembalinya aksi buru saham berbasis kecerdasan buatan dan semikonduktor. Emiten produsen peralatan chip Tokyo Electron naik 3,5%, penguji perangkat chip Advantest melonjak 4,9%, dan penyuplai Nvidia, Ibiden, ikut menguat 4,03%, memimpin penguatan indeks sepanjang sesi.
Kedua, meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Investor merespons positif data ketenagakerjaan non-farm payrolls Amerika Serikat akhir pekan lalu yang lebih lemah dari perkiraan. Kondisi ini mengurangi kekhawatiran pasar terhadap agresivitas bank sentral AS dalam menaikkan suku bunga, sehingga memicu reli di Wall Street yang kemudian menular ke bursa Tokyo.
Ketiga, laporan kinerja keuangan emiten yang impresif. Rilis laporan pendapatan emiten domestik turut menyuntikkan sentimen positif. Saham raksasa agensi ketenagakerjaan, Recruit Holdings, meroket 22,79% hingga menyentuh batas atas harian, setelah merevisi perkiraan laba tahunannya di atas ekspektasi pasar.
Meski demikian, penguatan hari ini turut diwarnai faktor musiman. Volume perdagangan harian cenderung dibatasi oleh sikap defensif sebagian pemodal, dengan banyak pelaku pasar lokal mulai membatasi aktivitas transaksi menjelang pekan libur musim panas Obon di Jepang, sehingga likuiditas pasar berpotensi menipis pada sesi-sesi mendatang.








