(Vibiznews – Commodity) – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau CPO di Bursa Malaysia Derivatives terpantau bergerak menguat pada perdagangan hari ini, Kamis (20/8/2026). Kontrak acuan untuk pengiriman November 2026 naik sekitar 0,7 persen ke level RM4.927 per metrik ton. Penguatan ini mengantarkan harga minyak sawit global mencetak rekor tertinggi baru dalam 20 bulan terakhir, melanjutkan reli kuat yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut pada sesi-sesi sebelumnya.
Pada perdagangan kemarin, Rabu (19/8/2026), kontrak CPO pengiriman September 2026 di Bursa Malaysia ditutup melesat 38 ringgit ke posisi RM4.654 per metrik ton, sementara kontrak Oktober 2026 turut terangkat ke level RM4.794 per metrik ton. Momentum penguatan ini juga terasa hingga bursa domestik Indonesia, di mana harga CPO berjangka di ICDX ditutup menguat signifikan ke posisi Rp16.500 per kilogram dari Rp16.315 per kilogram pada hari sebelumnya. Sementara itu di pasar fisik, tender CPO di Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara ditutup withdraw, dengan penawaran tertinggi bertahan di level Rp15.755 per kilogram.
Reli harga CPO dunia hari ini utamanya didorong oleh spekulasi dampak buruk fenomena El Nino terhadap produksi sawit global. Lembaga riset komoditas dan analis pasar memperingatkan ancaman fenomena cuaca ekstrem yang dijuluki El Nino Godzilla, yang diperkirakan memicu kekeringan parah di wilayah perkebunan Asia Tenggara. Kekhawatiran atas potensi gangguan produksi jangka panjang ini bahkan melambungkan harga kontrak berjangka CPO untuk pengiriman tahun 2027 hingga menembus di atas RM5.000 per metrik ton, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap defisit pasokan yang lebih dalam pada tahun-tahun mendatang.
Selain sentimen cuaca, penguatan harga CPO dunia turut ditopang oleh dinamika permintaan biodiesel dan gangguan logistik global. Dewan Minyak Sawit Malaysia atau MPOC melaporkan bahwa permintaan dari Indonesia tetap kuat seiring berakhirnya masa transisi stok untuk pemenuhan mandatori biodiesel B40. Di sisi lain, ketegangan pengiriman kapal tanker di Selat Hormuz berisiko mengganggu pasokan minyak nabati kompetitor, sehingga mengalihkan sebagian permintaan global ke komoditas CPO sebagai alternatif substitusi.
Rekor tertinggi harga CPO global ini langsung menjadi angin segar bagi bursa saham domestik. Saham-saham emiten kelapa sawit di Bursa Efek Indonesia siang ini kompak meroket, dipimpin oleh PT Eagle High Plantations Tbk dengan kode BWPT yang terbang 16,30 persen dan PT Gozco Plantations Tbk dengan kode GZCO yang naik 9,25 persen. Sentimen positif ini turut berdampak pada emiten besar lainnya seperti AALI dan SIMP, seiring optimisme pelaku pasar terhadap prospek kinerja sektor perkebunan sawit di tengah tren kenaikan harga komoditas yang masih berlanjut.








