(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York bergerak menguat pada perdagangan hari Kamis, 20 Agustus 2026, bertengger di kisaran 5.929 hingga 5.934 dolar AS per metrik ton, mempertahankan tren bullish yang telah berlangsung dalam sebulan terakhir.
Pada sesi perdagangan Rabu, kontrak kakao acuan dunia untuk penyerahan bulan September 2026 di ICE New York ditutup melonjak 141 dolar AS atau naik 2,39 persen ke posisi akhir 5.929,28 dolar AS per metrik ton. Sepanjang sesi harian, harga bergerak fluktuatif dalam rentang yang cukup lebar antara 5.832 hingga 6.111 dolar AS per metrik ton. Sementara itu, kontrak kakao di bursa London turut ditutup menguat 1,14 persen ke level 4.268 poundsterling per ton, meski laju kenaikannya sedikit tertahan oleh penguatan nilai tukar poundsterling terhadap dolar AS yang menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
Secara akumulatif, komoditas bahan baku cokelat ini telah mencatatkan kenaikan sekitar 7,4 persen dalam sebulan terakhir. Meski demikian, posisi harga saat ini masih tercatat lebih rendah 22,7 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, mencerminkan bahwa pasar masih berada dalam fase pemulihan bertahap dari koreksi tahunan yang cukup dalam.
Faktor utama yang mendorong penguatan harga hari ini adalah pelemahan Indeks Dolar AS yang ambruk ke level terendah dalam 2,5 bulan terakhir. Kondisi ini menjadi katalis utama yang turut melambungkan harga komoditas global, termasuk kakao, karena dolar yang lebih lemah membuat pembelian kontrak komoditas berdenominasi dolar AS menjadi lebih murah bagi investor pemegang mata uang lain.
Dari sisi fundamental, meskipun pasokan musim berjalan 2025/2026 dinilai masih cukup melimpah dengan pengiriman ke pelabuhan Pantai Gading yang naik 20 persen, para pelaku pasar mulai mengkhawatirkan prospek panen utama untuk musim depan yang berlangsung dari bulan September 2026 hingga Februari 2027. Petani di Pantai Gading memperingatkan bahwa perkebunan mereka kekurangan sinar matahari akibat curah hujan di bawah rata-rata disertai suhu udara yang dingin, kondisi yang dapat menghambat pertumbuhan buah kakao muda atau cherelle.
Kekhawatiran atas prospek pasokan musim depan turut diperkuat oleh revisi proyeksi surplus global yang dilakukan lembaga riset StoneX. Lembaga tersebut memangkas proyeksi surplus kakao global untuk periode 2026/2027 secara drastis menjadi hanya 25.000 metrik ton, turun jauh dari estimasi awal sebesar 149.000 metrik ton. Pemangkasan ini didasarkan pada meningkatnya risiko anomali cuaca ekstrem El Nino yang membayangi wilayah produsen utama di kawasan Afrika Barat.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kakao pada perdagangan selanjutnya masih berpotensi melanjutkan tren penguatan di tengah pelemahan dolar AS dan kekhawatiran pasar terhadap prospek panen musim depan. Apabila momentum beli berlanjut, harga kakao berpotensi menguji kisaran resistance di 6.000 hingga 6.111 dolar AS per metrik ton. Namun, apabila terjadi aksi ambil untung setelah kenaikan yang telah terjadi, harga berpotensi terkoreksi menguji kisaran support di 5.832 hingga 5.700 dolar AS per metrik ton.








