(Vibiznews – Commodity) Harga kopi arabika di bursa komoditi berjangka New York berakhir anjlok tajam lebih dari 4 persen pada penutupan perdagangan hari Kamis malam waktu setempat atau Jumat pagi waktu Indonesia. Penurunan yang terjadi secara berturut-turut dalam dua hari terakhir ini telah menyeret harga komoditas kopi tersebut turun menyentuh level terendahnya dalam dua setengah minggu terakhir.
Kontrak berjangka kopi arabika kontemporer di bursa ICE Futures New York ditutup ambles sebesar 4,47 persen atau merosot tajam 14,40 sen ke level 307,75 sen dolar AS per pon. Sepanjang sesi perdagangan harian, pergerakan harga terpantau mengalami pelemahan yang konsisten sejak pembukaan, meluncur turun dari level tertinggi hariannya di 315,15 sen menuju batas bawah di kisaran 306,55 sen dolar AS per pon.
Ketakutan pasar akan kelangkaan komoditas kopi mulai melandai secara masif seiring dengan meluasnya estimasi panen rekor global untuk periode musim 2026/2027 yang diprediksi mencapai 189,7 juta kantong. Secara khusus, peningkatan volume panen tahunan dari Brasil diproyeksikan melonjak signifikan pada kisaran 14 hingga 18 persen. Prospek melimpahnya pasokan jangka panjang ini seketika memicu aksi likuidasi posisi beli oleh berbagai institusi keuangan dan spekulan di pasar berjangka.
Tekanan ke bawah juga semakin diperburuk oleh masalah logistik internal yang tengah dihadapi oleh para petani di Brasil. Berlanjutnya laporan mengenai penuhnya kapasitas ruang simpan di berbagai gudang komoditas domestik memaksa para petani untuk segera meningkatkan laju penjualan fisik mereka ke pasar global. Menipisnya sisa ruang penyimpanan ini membuat opsi untuk menahan stok demi berspekulasi mengharapkan harga tinggi menjadi tidak lagi realistis.
Meskipun dihantam tekanan jual yang hebat, koreksi harga tidak sampai membuat kopi arabika ambruk lebih dalam ke level terendah tahunannya berkat adanya faktor penahan dari tingkat persediaan. Data teknis menunjukkan bahwa ketersediaan kopi bersertifikat di gudang pemantauan bursa ICE terus menyusut tajam hingga mendekati rekor terendah dalam 27 tahun terakhir, yang saat ini hanya berada di kisaran 224.011 kantong.
Di sisi lain, anjloknya harga di pasar berjangka internasional tampaknya belum banyak menggoyahkan pasar fisik domestik di Indonesia. Pergerakan harga komoditas fisik lokal masih bertahan kokoh di zona premium akibat ketatnya ketersediaan stok di tingkat petani. Di wilayah produsen utama seperti Aceh Tengah, harga green bean kopi Gayo kualitas premium terpantau stabil bergerak di kisaran Rp119.000 hingga Rp120.000 per kilogram, sementara untuk kopi jenis gabah masih bertahan kuat di level Rp58.000 hingga Rp60.000 per bambu.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kopi arabika masih akan dibayangi oleh sentimen tekanan turun merespons melimpahnya proyeksi pasokan dari Brasil dan desakan logistik, meskipun ketatnya persediaan fisik di gudang bursa dapat memberikan sedikit bantalan penahan. Harga kopi arabika diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $3.05-$3.00. Namun apabila terjadi pantulan teknis, harga akan mencoba merangkak naik menuju kisaran Resistance $3.12-$3.15.








