Harga Kopi Arabika Akhir Pekan Berakhir Merosot Seiring Percepatan Panen di Brasil

42
kopi Arabika, kopi Robusta

(Vibiznews – Commodity) Harga kopi arabika dunia ditutup merosot pada perdagangan akhir pekan, Jumat waktu Amerika Serikat atau Sabtu pagi WIB, 29 Agustus 2026. Kontrak berjangka komoditas ini tergelincir ke level terendahnya dalam tiga minggu terakhir, seiring tekanan jual yang didorong oleh percepatan panen di Brasil.

Pergerakan harga kopi arabika hari ini terpantau ditutup melemah di level 3,13 dolar AS per pon di bursa ICE New York, dengan rentang perdagangan harian bergerak di kisaran 3,08 hingga 3,15 dolar AS per pon. Sementara itu, kontrak Arabica 4/5 futures tercatat anjlok signifikan sebesar 4,54 persen ke level 400,60 sen per pon, dengan rentang perdagangan harian di kisaran 400,60 hingga 409,95 sen per pon.

Tekanan jual pada perdagangan kali ini utamanya didorong oleh percepatan musim panen di Brasil. Cuaca kering yang melanda wilayah utama penanam kopi Brasil, seperti Minas Gerais, mempercepat proses panen di lapangan yang kini telah melampaui 90 persen selesai. Pasokan baru yang mulai mengalir masuk ke gudang-gudang pelabuhan memaksa sebagian petani untuk melepas simpanan mereka ke pasar spot.

Selain faktor panen, penurunan harga arabika hari ini juga dipengaruhi oleh aksi likuidasi posisi beli oleh para pelaku pasar. Menyusul pidato makroekonomi yang bernada hawkish dari bursa saham global, para manajer dana melakukan aksi ambil untung dan melikuidasi posisi long atau beli mereka pada kontrak komoditas lunak seperti kopi dan gula.

Meski demikian, koreksi penurunan harga kopi arabika pada hari ini berhasil tertahan agar tidak jatuh lebih dalam berkat bantalan kuat dari kondisi stok ICE yang masih sangat kritis. Persediaan bersertifikat di bursa ICE anjlok mendekati level terendah dalam 26 tahun terakhir, yakni sekitar 224.011 kantong. Kelangkaan stok fisik global ini membuat pasar tetap sangat sensitif terhadap guncangan jangka pendek sekalipun.

Pasar kopi dunia juga masih dibayangi oleh dampak gangguan logistik pasca gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang melanda Kolombia beberapa waktu lalu. Provinsi penghasil utama seperti Caldas dan Risaralda, yang menyumbang seperempat dari total produksi kopi Kolombia, sempat mengalami kendala dalam pengiriman ekspor.

Berbeda dengan gejolak tajam yang terjadi di pasar berjangka New York, harga fisik kopi arabika di tingkat produsen lokal Indonesia terpantau relatif stabil. Di pusat kopi Arabika Gayo, Aceh Tengah, harga kopi gelondong atau cherry bertahan di kisaran Rp21.000 hingga Rp22.000 per bambu, sementara harga kopi jenis green bean kualitas premium di pasar lokal berada pada level Rp119.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Stabilnya harga domestik ini didukung oleh kuatnya penyerapan industri coffee shop serta pemenuhan kontrak ekspor yang sudah berjalan.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kopi arabika ke depan masih akan diwarnai oleh tarik-menarik antara percepatan pasokan dari panen Brasil yang menekan harga, melawan krisis persediaan fisik global di gudang bursa ICE yang berada di titik terendah dalam 26 tahun terakhir, sehingga harga arabika berpotensi bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.