(Vibiznews-Commodity) — Jalur pasokan energi strategis di Selat Hormuz hingga akhir Agustus 2026 belum pulih sepenuhnya. Meski aktivitas pelayaran di jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar dunia ini mulai menunjukkan tren pemulihan bertahap, ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas terus membayangi normalisasi arus perdagangan energi global.
Konflik AS-Iran yang telah berlangsung selama enam bulan terakhir membuat Selat Hormuz—jalur yang dilalui sebagian besar ekspor minyak mentah dunia—masih beroperasi dalam kondisi krisis, jauh dari kondisi normal sebelum perang.
Aktivitas Pelayaran Membaik, Tapi Belum Normal
Data terbaru menunjukkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sudah mencapai sekitar 66% dari level sebelum perang, sebuah perbaikan signifikan dibanding masa penutupan total jalur tersebut. Volume ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia saat ini berkisar 15–16 juta barel per hari.

Namun demikian, data volume impor minyak Asia dari Timur Tengah yang dikutip Kompas.com menunjukkan angka tersebut masih berada di bawah level normal sebelum konflik pecah—menandakan pemulihan yang terjadi baru bersifat parsial, bukan pemulihan penuh.
Iran Masih Pegang Kendali, AS Kawal Kapal Tanker
Iran menegaskan bahwa pihaknya memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. Kapal komersial maupun tanker minyak tidak dapat melintas secara bebas tanpa izin resmi dan pengawasan ketat dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Sebagai langkah darurat, militer AS menyediakan koridor pengawalan di bagian selatan selat, dekat wilayah Oman, untuk mengamankan pergerakan kapal tanker. AS juga mengklaim telah membersihkan ranjau laut di jalur pelayaran internasional. Meski begitu, industri pelayaran global masih bersikap skeptis dan berhati-hati untuk kembali beroperasi secara penuh di jalur tersebut.
Eskalasi Baru di Pulau Larak Ganjal Pemulihan
Upaya normalisasi kembali terhambat setelah militer AS menghancurkan dua peluncur rudal antikapal milik Iran di Pulau Larak. Insiden ini langsung memicu gejolak baru di pasar finansial dan mengerek kembali harga minyak mentah dunia, membuktikan betapa rentannya proses pemulihan jalur ini terhadap eskalasi militer sekecil apa pun.
Akibat gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dan Laut Merah, Badan Energi Internasional (IEA) telah memangkas tajam proyeksi pasokan minyak globalnya, dengan estimasi defisit pasokan dunia mencapai sekitar 1,27 juta barel per hari di bawah total permintaan pasar.
Harga Minyak: Sempat Turun, Kini Naik Lagi
Ekspektasi pembukaan kembali jalur Hormuz sempat menjadi pemicu utama pelemahan harga minyak dunia. Sepanjang pekan lalu, harga minyak mentah Brent anjlok lebih dari 5% ke level US$89,31 per barel, sementara WTI melemah ke US$83,40 per barel.
Penurunan ini didorong oleh dua sentimen utama:
- Ekspektasi diplomasi — Iran dan Oman menyepakati rute maritim sementara, ditambah kunjungan Perdana Menteri Qatar ke Teheran untuk merundingkan penghentian konflik, yang meredakan kekhawatiran pasar atas kelangkaan pasokan energi.
- Pengalihan strategi AS — beralihnya Washington dari opsi serangan militer ke sanksi ekonomi baru terhadap Iran dinilai pelaku pasar membawa risiko lebih rendah terhadap gangguan fisik pasokan minyak dibanding eskalasi militer langsung.
Namun sentimen positif itu tidak bertahan lama. Pada Senin, 31 Agustus 2026, harga minyak Brent kembali melonjak ke kisaran US$90,46 per barel menyusul serangan AS terhadap peluncur rudal Iran di Pulau Larak—menegaskan bahwa pasar minyak global saat ini masih sangat sensitif terhadap setiap dinamika di Selat Hormuz.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Selat Hormuz belum pulih sepenuhnya. Yang terjadi saat ini adalah pemulihan parsial dan rapuh: volume pelayaran membaik namun masih di bawah kondisi normal, kendali jalur masih di tangan Iran dengan pengawasan ketat, dan setiap eskalasi militer baru—sekecil apa pun—dapat langsung membalikkan sentimen pasar dan mengerek kembali harga energi dunia. Investor dan pelaku pasar disarankan tetap mencermati perkembangan diplomasi Iran-Oman serta dinamika sanksi AS yang akan menentukan arah pemulihan jalur strategis ini ke depan.








