Update Geopolitik Selat Hormuz: Selat Masih Tertutup, Dunia Terancam Krisis Energi Baru

73

(Vibiznews – Economy & Business) Krisis di Selat Hormuz memasuki fase yang semakin genting. Jalur navigasi laut paling strategis di dunia ini masih tertutup dan dibatasi ketat menyusul konflik militer terbuka yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, dengan dampak yang kini merambat jauh melampaui kawasan Timur Tengah — mulai dari lonjakan harga minyak dunia, respons kekuatan ekonomi global BRICS, hingga ancaman kenaikan harga BBM di Indonesia.

  1. Selat Tetap Tertutup, Iran Ajukan Tujuh Syarat

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran tetap memberlakukan kontrol akses sepihak dan menutup Selat Hormuz. Eskalasi terbaru dipicu oleh aksi saling serang antara militer AS dan Iran, termasuk klaim serangan udara AS yang menyasar wilayah sipil dan militer di Provinsi Hormozgan.

Pemerintah Iran melalui kantor beritanya menegaskan bahwa Selat Hormuz baru akan dibuka kembali setelah Amerika Serikat memenuhi tujuh syarat diplomatik dan militer yang telah disepakati oleh pejabat tinggi Teheran. Di sisi lain, Iran dan Oman dilaporkan berada di tahap akhir negosiasi untuk mengoordinasikan rute pelayaran darurat yang aman — namun kesepakatan ini sifatnya terbatas pada manajemen jalur keluar-masuk darurat, dan tidak mencakup pembukaan kembali fungsi selat secara normal.

  1. Lalu Lintas Kapal Lumpuh, Harga Minyak Tembus USD 100

Dampak paling nyata dari penutupan ini terlihat pada anjloknya lalu lintas pelayaran. Data pelacakan menunjukkan hanya sekitar tujuh kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam jendela 24 jam, jauh di bawah rata-rata normal, sehingga arus distribusi pasokan minyak dari chokepoint ini terpangkas hingga separuh dari volume sebelum perang.

Akibat mandeknya distribusi di titik krusial pasokan energi dunia ini, harga minyak mentah internasional kembali menembus level psikologis di atas USD 100 per barel — melanjutkan tren kenaikan tajam yang telah berlangsung sejak awal konflik.

  1. BRICS Turun Tangan, Xi Jinping Serukan Stabilitas Rantai Pasok

Konflik yang melumpuhkan rantai pasok energi global ini turut memicu reaksi dari kekuatan-kekuatan ekonomi baru dunia. Dalam KTT ke-18 BRICS di New Delhi, Presiden China Xi Jinping mendesak aliansi BRICS untuk mengambil sikap tegas dan mengoptimalkan posisi strategisnya guna menjaga stabilitas industri serta mengamankan pasokan energi yang terguncang akibat krisis Hormuz.

Seruan ini menandakan bahwa dampak krisis tidak lagi dipandang sebagai persoalan regional Timur Tengah semata, melainkan telah menjadi agenda keamanan energi lintas blok ekonomi dunia.

  1. Efek Berantai ke Indonesia: ICP Naik, Pertamax Terancam Rp20.000

Guncangan di Selat Hormuz juga mulai terasa langsung di dalam negeri. Kementerian ESDM melaporkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) melonjak ke level USD 89,43 per barel, didorong tingginya risiko geopolitik di Selat Hormuz maupun Laut Merah.

PT Pertamina Patra Niaga bahkan menyebut dampak krisis Selat Hormuz kali ini dirasa lebih berat dibandingkan perang Ukraina-Rusia. Apabila harga minyak mentah dunia terus bertahan di atas USD 100 per barel, harga BBM non-subsidi seperti Pertamax di Indonesia diproyeksikan bisa melonjak ke kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter.

Masih Status Quo

Dengan Selat Hormuz yang masih tertutup, tujuh syarat Iran yang belum terpenuhi, dan negosiasi darurat dengan Oman yang hanya bersifat sementara, prospek normalisasi jalur energi vital ini masih jauh dari kepastian. Selama status quo ini berlangsung, tekanan terhadap harga minyak dunia — dan efek rembetannya ke harga BBM dalam negeri — diperkirakan akan terus membayangi pasar dalam beberapa pekan ke depan.

Artikel ini disusun berdasarkan data dan laporan media per September 2026. Situasi di lapangan dapat berubah cepat mengikuti perkembangan negosiasi dan eskalasi militer.