Indeks Nikkei Selasa Ditutup Turun Tipis; Saham SoftBank Melambung

27
nikkei
Foto : Vibizmedia

(Vibiznews – Index) Perdagangan Indeks Nikkei Jepang hari ini, Selasa, 15 September 2026, ditutup berakhir datar dengan pelemahan sangat tipis, setelah indeks bergerak sangat fluktuatif sepanjang sesi di tengah kombinasi kekhawatiran sektor AI global dan antisipasi kebijakan moneter makro.

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 8,89 poin, atau turun 0,01%, dan berakhir di level 63.484,10. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, indeks dibuka melemah di level 63.190,37, lalu melesat naik hingga menyentuh level tertinggi harian di 64.101,00 pada sesi pagi, ditopang aksi borong balik saham teknologi, sebelum akhirnya kembali melemah di paruh kedua akibat aksi wait-and-see pasar menjelang rapat bank sentral.

Sektor teknologi Jepang masih didera tekanan psikologis dari sentimen global, dibayangi oleh mencuatnya kekhawatiran terhadap pengembangan kecerdasan buatan yang dinilai terlalu cepat. Hal ini terjadi setelah adanya seruan dari para pemimpin perusahaan AI global untuk memperlambat laju evolusi tingkat lanjut demi mitigasi risiko keamanan. Akibat isu tersebut, emiten semikonduktor berbobot besar kompak melemah, seperti Advantest yang merosot 2,96%, Tokyo Electron yang turun 0,55%, dan Renesas Electronics yang terkoreksi 0,66%. Namun, kejatuhan indeks berhasil diselamatkan oleh lonjakan masif saham raksasa investasi teknologi SoftBank Group yang melambung 7,54%, serta Trend Micro yang melesat 4,33%.

Sesi perdagangan paruh kedua didominasi oleh suasana wait-and-see yang kuat di kalangan investor, menjelang dimulainya pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve AS mulai malam ini. Pasar bersikap defensif untuk mengantisipasi kepastian arah suku bunga acuan global setelah rilis data inflasi AS terbaru. Selera risiko ekuitas di Asia turut tertahan karena gejolak pasar obligasi internasional, dengan imbal hasil obligasi US Treasury tenor 10 tahun sempat menembus level psikologis 5,00% untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun terakhir, yang secara teori memicu rotasi modal keluar dari pasar saham.

Biaya komoditas energi masih bertahan di level tinggi, dengan minyak mentah Brent bertengger di kisaran USD 106 per barel, setelah Arab Saudi menutup sementara jalur pipa minyak utama yang melewati Selat Hormuz akibat serangan pekan lalu. Sebagai negara importir energi murni, tingginya harga minyak ini menekan kinerja emiten manufaktur domestik Jepang. Di sisi lain, nilai tukar dolar AS terpantau menguat 0,4% terhadap mata uang lokal ke kisaran 154,91 yen per dolar AS. Pelemahan nilai tukar yen ini memberikan bantalan bagi bursa saham Tokyo, karena menguntungkan valuasi pendapatan bagi emiten eksportir multinasional Jepang, sehingga membantu indeks bertahan mendekati level penutupan sebelumnya.