(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
- Pasar keuangan di minggu lalu masih cenderung bearish, dengan rupiah lebih sideways dan bertahan.
- Tingkat inflasi IHK September dilaporkan BPS sebesar 3,28% (yoy), naik dari bulan sebelumnya.
- Indeks PMI Manufaktur S&P Global September naik ke 52,4, kembali ke fase ekspansi.
- Sentimen global saat ini masih sekitar tensi geopolitik Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia, serta arah kenaikan suku bunga global.
- Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini adalah rilis cadangan devisa September pada hari Rabu; indeks keyakinan konsumen September di hari Kamis; serta data penjualan ritel Agustus pada hari Jumat nanti.
Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 5-9 October 2026.
===
Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau terkoreksi tajam di pekan keempatnya dan sempat mencapai level 11,5 minggu –hampir 3 bulan– terendahnya, namun di hari terakhir pasar mengalami rebound. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya mixed dan fluktuatif di tengah ketidakpastian arah harga minyak mentah dunia. Secara mingguan IHSG ditutup melemah tajam 3,28%, atau 205,004 poin, ke level 6.036,888.
Untuk minggu berikutnya (5-9 Oktober 2026), IHSG kemungkinan akan berupaya melanjutkan rebound sementara walau masih cenderung bearish, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 6.228 dan 6.380. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 5,898 dan bila tembus ke level 5,839.
Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu bergerak sideways dan menahan tekanan bearish selama 2 minggu sebelumnya, di antara penguatan dollar global. Rupiah secara mingguannya berakhir hampir flat dengan melemah tipis 12 poin atau 0,07% ke level Rp17.902 per USD. Sementara, dollar global rally dan sempat mencapai 17 bulan tertingginya lalu terkoreksi di hari terakhir, di antara merosotnya euro dan sentimen the Fed akan bertambah hawkish.
Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan akan konsolidasi namun tetap uptrend, atau rupiah kemungkinan bertahan tetapi masih dalam tekanan bertahap, dalam range antara resistance di level Rp18.000 dan Rp18.090, sementara support di level Rp17.795 dan Rp17.695.
Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau turun secara mingguannya, terlihat dari pergerakan naik yields obligasi dan berakhir ke level 7,159%. Sementara yields US Treasury terpantau rally kuat di pekan kelimanya.
===
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 mencatat surplus sebesar 3,55 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan surplus pada Juli 2026 sebesar 0,12 miliar dolar AS.
Surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026 bersumber dari peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas dan penurunan defisit neraca perdagangan migas.
BPS melaporkan pada September 2026, terjadi inflasi IHK sebesar 3,28% (yoy), naik dari tingkat inflasi bulan sebelumnya.
Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia untuk bulan September 2026 naik ke 52,4 dari 49,8 pada bulan sebelumnya. Dengan demikian, indikator ini kembali ke wilayah ekspansi karena berada di atas level 50.
===
Seorang investor ketika memilih instrumen investasinya dan kemudian masuk ke pasar tentunya berharap akan memperoleh profit dari keputusan investasinya tersebut. Harapan. Itu sesuatu yang begitu memengaruhi pandangan investor dan keputusan investasinya. Harapan yang diwarnai oleh ekspektasi. Kalau Anda ingin kenal pasar –memang sangat sulit untuk mengenalnya—harus tahu seperti apa ekspektasi pasar hari-hari ini.
Vibiznews.com selalu ingin memperkenalkan Anda kepada pasar, lebih dalam dan detail lagi, karena kami ada sebagai partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting





