(Vibiznews – Market Mover) Pelaku pasar memasuki pekan baru tanpa kabar damai dari Teluk Persia. Ketegangan AS-Iran berlanjut dan kesepakatan pembukaan Selat Hormuz masih buntu. Iran menegaskan selat itu tetap tertutup sampai Washington memenuhi tujuh syarat yang diajukannya. UKMTO melaporkan serangan terhadap dua kapal di perairan dekat Oman dan Iran selama akhir pekan. Kelompok Houthi mengklaim menyerang fasilitas utama Saudi Aramco di dekat Riyadh dengan rudal balistik dan drone.
Tiga kejadian itu menyentuh tiga hal sekaligus: jalur pelayaran, produsen minyak terbesar di Timur Tengah, dan kredibilitas upaya diplomasi. Bagi pasar, premi risiko geopolitik sulit turun dalam waktu dekat.
Minyak: Bertahan di Atas US$100
Minyak adalah kanal transmisi pertama dan paling langsung. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Selama selat itu terkunci, pasar sulit melepas kekhawatiran soal pasokan fisik.
Pada penutupan Kamis (1/10), Brent naik 4,4% ke sekitar US$102,31 per barel dan WTI ke US$92,87. Pemicunya laporan Pentagon yang menyiapkan kapal induk ketiga ke Timur Tengah. Sebagian analis memperkirakan Brent bergerak di atas US$100 pekan ini, dengan support WTI di sekitar US$84,60.
Serangan terhadap fasilitas Aramco, jika terkonfirmasi dan berdampak pada produksi atau ekspor, menambah satu lapis risiko di luar Hormuz. Dampaknya terasa pada pasokan dari Arab Saudi, yang selama ini menjadi penyangga saat jalur Hormuz terganggu.
Ada faktor peredam, yaitu stok minyak mentah AS yang naik dan rencana pelepasan cadangan strategis (SPR) hingga 40 juta barel. Keduanya lebih menahan WTI daripada Brent. Selama tidak ada terobosan diplomatik, bias harga tetap naik dan rentan lonjakan harian yang tajam.
Pelaku pasar memasuki pekan baru tanpa kabar damai dari Teluk Persia. Ketegangan AS-Iran berlanjut dan kesepakatan pembukaan Selat Hormuz masih buntu. Iran menegaskan selat itu tetap tertutup sampai Washington memenuhi tujuh syarat yang diajukannya. UKMTO melaporkan serangan terhadap dua kapal di perairan dekat Oman dan Iran selama akhir pekan. Kelompok Houthi mengklaim menyerang fasilitas utama Saudi Aramco di dekat Riyadh dengan rudal balistik dan drone.
Tiga kejadian itu menyentuh tiga hal sekaligus: jalur pelayaran, produsen minyak terbesar di Timur Tengah, dan kredibilitas upaya diplomasi. Bagi pasar, premi risiko geopolitik sulit turun dalam waktu dekat.
Minyak: Bertahan di Atas US$100
Minyak adalah kanal transmisi pertama dan paling langsung. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Selama selat itu terkunci, pasar sulit melepas kekhawatiran soal pasokan fisik.
Pada penutupan Kamis (1/10), Brent naik 4,4% ke sekitar US$102,31 per barel dan WTI ke US$92,87. Pemicunya laporan Pentagon yang menyiapkan kapal induk ketiga ke Timur Tengah. Sebagian analis memperkirakan Brent bergerak di atas US$100 pekan ini, dengan support WTI di sekitar US$84,60.
Serangan terhadap fasilitas Aramco, jika terkonfirmasi dan berdampak pada produksi atau ekspor, menambah satu lapis risiko di luar Hormuz. Dampaknya terasa pada pasokan dari Arab Saudi, yang selama ini menjadi penyangga saat jalur Hormuz terganggu.
Ada faktor peredam, yaitu stok minyak mentah AS yang naik dan rencana pelepasan cadangan strategis (SPR) hingga 40 juta barel. Keduanya lebih menahan WTI daripada Brent. Selama tidak ada terobosan diplomatik, bias harga tetap naik dan rentan lonjakan harian yang tajam.

Sumber: Pengolahan Penutupan Harian – Vibiznews
Dolar AS: Penopang Ganda dari Geopolitik dan The Fed
Dolar AS punya dua pendorong. Yang pertama permintaan aset aman. Yang kedua, dan lebih penting, minyak mahal menaikkan inflasi dan memperkuat ekspektasi The Fed mempertahankan sikap ketat. The Fed menaikkan suku bunga pada September ke kisaran 3,75%-4,00%, kenaikan pertama sejak 2023. Indeks dolar (DXY) ditutup di 101,37 pada 29 September, level tertinggi dalam dua bulan, dan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,27%, tertinggi dalam 19 tahun.

Sumber: Pengolahan Penutupan Harian – Vibiznews
Namun arah ekspektasi bunga berubah cepat. Menurut perhitungan CME FedWatch yang dikutip media, peluang kenaikan bunga pada pertemuan Oktober turun dari sekitar 70% menjadi sekitar 23% dalam tiga hari. Peluang kenaikan pada Desember masih sekitar 86%. Pasar tampaknya menggeser waktu pengetatan, bukan membatalkannya.

Sumber: CME FedWatch.
Pekan ini ada dua penentu utama:
- Data jasa AS (ISM Services) di awal pekan, untuk membaca kekuatan ekonomi dan tekanan harga.
- Notulen FOMC September, dirilis Kamis dini hari WIB (sekitar pukul 01.00). Nada hawkish akan mengangkat dolar dan imbal hasil Treasury. Perbedaan pandangan yang lebar di antara anggota FOMC bisa meredam dolar.
Sejumlah pejabat The Fed juga dijadwalkan bicara, termasuk Williams, Bowman, Logan, Musalem, dan Collins. Komentar mereka soal minyak dan inflasi akan dibaca sebagai petunjuk langkah berikutnya.
Emas: Terjepit Antara Safe Haven dan Suku Bunga
Banyak investor mengira ketegangan geopolitik otomatis mengerek emas. Pola sejak perang dimulai akhir Februari menunjukkan sebaliknya. Emas justru turun sekitar 15% sejak konflik dimulai (data Juli) karena minyak mahal memicu inflasi, inflasi memperkuat ekspektasi bunga tinggi, dan bunga tinggi menekan aset tanpa imbal hasil seperti emas. Emas hanya menguat saat ada harapan damai yang melemahkan dolar, seperti saat kerangka kesepakatan diumumkan pertengahan Juni.
Emas spot sempat anjlok 3,99% ke US$4.114,92 pada 28 September saat dolar dan yield menguat, lalu pulih tipis. Akhir pekan lalu, emas dunia ada di kisaran US$4.184 per ons troy. Pekan ini emas berpotensi bergerak dalam dua arah:

Sumber: Pengolahan Penutupan Harian – Vibiznews
- Skenario tertekan: notulen FOMC hawkish, dolar dan yield naik, emas menguji support di bawah level saat ini.
- Skenario menguat: peluang bunga naik di Oktober terus menyusut dan dolar melemah, sehingga emas mendapat ruang rebound dan fungsi lindung nilainya kembali dilirik.
Gejolak harian kemungkinan besar. Investor sebaiknya tidak membaca emas sebagai instrumen yang bergerak searah dengan berita perang.
Strategi: Memperhatikan Indikator dan Skenario
Bagi investor, pekan ini lebih menuntut pengelolaan risiko daripada spekulasi arah.
Pantau tiga indikator: Brent di sekitar US$100, indeks dolar di sekitar 101, dan emas di sekitar US$4.100-4.200.
Siapkan skenario ganda. Kabar damai bisa membalik arah minyak, dolar, dan emas dalam hitungan jam. Eskalasi sebaliknya.
Penutup
Pekan 5-9 Oktober akan ditentukan oleh satu pertanyaan: seberapa lama Selat Hormuz tetap terkunci. Selama jawabannya belum jelas, minyak tinggi akan menjaga tekanan inflasi, dolar, dan sikap The Fed, yang kemudian membatasi ruang gerak emas dan aset berisiko global. Terobosan diplomatik dapat membalik rantai itu dengan cepat, tetapi sampai saat ini belum ada tanda yang meyakinkan.







