Rekomendasi Harga Kopi Arabika 17 September 2026

24

(Vibiznews – Commodity) Harga kopi arabika di bursa komoditi berjangka New York berakhir melemah pada penutupan perdagangan hari Rabu, 16 September 2026. Harga komoditas perkebunan ini tergelincir turun ke level terendah dalam sepuluh minggu terakhir akibat peningkatan proyeksi pasokan global dan percepatan ekspor dari produsen utama dunia.

Kontrak berjangka kopi arabika acuan untuk pengiriman Desember 2026 ditutup melemah sebesar 0,63 persen atau turun 1,80 sen ke level 283,65 sen dolar AS per pon. Sepanjang sesi perdagangan harian, pergerakan harga sempat terpantau fluktuatif dan terus tertekan hingga mendekati kisaran 281,00 sen dolar AS per pon (sekitar 2,81 dolar AS per pon).

Pergerakan harga kopi arabika global saat ini sangat dipengaruhi oleh perubahan prospek suplai yang perlahan beralih dari kondisi ketat menjadi melimpah. Katalis utama yang menekan harga adalah derasnya arus ekspor dari Brasil sesudah masa panen raya berakhir. Berdasarkan data terbaru dari Secex, ekspor biji kopi hijau Brasil pada awal September dilaporkan melonjak lebih dari 51,5 persen dibandingkan rata-rata harian pada periode yang sama tahun lalu. Rekor volume ekspor yang tinggi ini secara efektif meredakan kekhawatiran para pelaku pasar akan kelangkaan pasokan dalam jangka pendek.

Sentimen pelemahan harga juga semakin diperberat oleh kondisi cuaca yang sangat mendukung di kawasan sentra produksi. Laporan cuaca dari lembaga Climatempo menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah utama penghasil kopi arabika Brasil, seperti Minas Gerais, mencapai 59,4 mm dalam sepekan terakhir. Angka tersebut setara dengan 1.212 persen di atas rata-rata curah hujan historisnya. Hujan yang lebat dan melimpah selama fase pembungaan krusial ini menjadi sentimen yang sangat negatif bagi pergerakan harga, karena kondisi basah ini sangat mendukung kelancaran dan potensi panen besar pada siklus berikutnya.

Dari sisi fundamental makro, International Coffee Organization (ICO) turut merilis laporan berkala yang memperkuat proyeksi surplus pasokan. Lembaga tersebut memproyeksikan bahwa produksi kopi global untuk periode musim 2025/2026 akan tumbuh sebesar 4,4 persen secara tahunan hingga mencapai rekor 183,6 juta kantong. Sebaliknya, tingkat konsumsi global justru diprediksi turun tipis sebesar 0,9 persen. Dinamika ini semakin mengonfirmasi keyakinan pasar bahwa ketersediaan pasokan kopi global akan lebih dari cukup untuk memenuhi permintaan.

Kendati diadang oleh berbagai tekanan jual yang kuat, kejatuhan harga kopi arabika yang lebih dalam berhasil tertahan oleh kondisi persediaan fisik yang ada saat ini. Tingkat stok kopi bersertifikat di gudang pemantauan bursa ICE dilaporkan masih tertahan di level terendahnya dalam 27 tahun terakhir, yakni hanya tersisa di kisaran 217.646 kantong. Di saat yang sama, pasar juga tengah memantau ketat rencana para pedagang komoditas besar yang dikabarkan sedang bersiap mengirimkan pasokan dalam jumlah masif ke gudang-gudang bursa guna mendongkrak kembali level ketersediaan stok tersebut.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kopi arabika masih akan dibayangi oleh tren penurunan merespons banjirnya pasokan ekspor dan kondisi cuaca ideal di Brasil yang mengamankan prospek panen masa depan. Harga kopi arabika diperkirakan bergerak menekan area Support di kisaran 280,00 hingga 278,00. Namun apabila terjadi aksi beli teknikal untuk menutup posisi, harga akan mencoba merangkak naik menguji area Resistance di kisaran 286,00 hingga 288,00.