Rekomendasi Forex Dolar AS 21 September 2026 : Dapat Turun Terpicu Pelemahan Harga Minyak

88

(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS turun dari level tertinggi dalam 7 minggu dan berakhir turun pada hari Jumat, terbebani pelemahan data ekonomi dan penurunan harga minyak.

Indeks dolar AS berakhir turun tipis 0,03% pada 100,22.

Dolar AS turun akibat data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan, yang menunjukkan bahwa produksi manufaktur dan indikator utama bulan Agustus secara tak terduga mengalami penurunan.

Produksi manufaktur AS bulan Agustus secara tak terduga turun -0,3% secara bulanan (*m/m*); angka ini lebih lemah dari perkiraan kenaikan +0,3% dan merupakan penurunan terbesar dalam 10 bulan terakhir.

Indikator utama AS bulan Agustus secara tak terduga turun -0,1%; angka ini lebih lemah dari perkiraan kenaikan +0,1% dan merupakan penurunan pertama dalam 5 bulan terakhir.

Selain itu, penurunan harga minyak mentah WTI sebesar -1% pada hari Jumat meredakan ekspektasi inflasi dan berpotensi mendorong The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Awalnya, dolar sempat menguat pada hari Jumat akibat pelemahan yen, yang sempat menyentuh level terendah dalam 2 minggu pada hari itu.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS pada hari Jumat juga turut menopang dolar.

Dolar juga mendapat dukungan lanjutan dari hari Rabu, saat FOMC menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp) dan mengisyaratkan kenaikan suku bunga lanjutan sebelum akhir tahun.

Pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 55% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar +25 bp pada pertemuan FOMC berikutnya, tanggal 27-28 Oktober.

Pasar fokus pada upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik AS-Iran, meskipun serangan baru oleh kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran terus menjaga ketegangan tetap tinggi.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Fox News bahwa ia kemungkinan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum PBB di New York minggu ini.

Setiap kemajuan menuju negosiasi dapat mengurangi premi risiko geopolitik pada harga minyak mentah.

Namun, serangan terbaru Houthi menyoroti risiko yang dihadapi infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Kelompok Houthi melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke arah Riyadh pada hari Sabtu, yang mendorong Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara untuk ibu kota tersebut. Serangan itu terjadi saat kelompok tersebut meningkatkan kampanyenya melawan Arab Saudi di tengah konflik AS-Iran yang lebih luas.

Ketegangan yang kembali memanas ini telah memicu kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap ekspor minyak Arab Saudi. Pipa Timur-Barat Arab Saudi, yang mengangkut minyak mentah dari ladang minyak di wilayah timur kerajaan menuju Laut Merah, masih terdampak oleh serangan, meskipun Riyadh telah berupaya mencari cara alternatif untuk menyalurkan minyak ke pasar internasional.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS dapat bergerak turun dengan pelemahan harga minyak berlanjut. Indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Support 100,07-99,91. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance 100,47-100,71.