(Vibiznews – Commodity) Harga kopi arabika di bursa komoditi berjangka New York berakhir melemah tajam pada penutupan perdagangan hari Senin (21 September 2026). Koreksi harga ini memperparah tren kerugian komoditas kopi dan menyeretnya turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir akibat ekspektasi melimpahnya pasokan global.
Kontrak berjangka kopi arabika acuan untuk pengiriman Desember 2026 ditutup anjlok sebesar 1,46 persen atau turun 4,10 sen untuk bertengger di level 276,40 sen dolar AS per pon. Sepanjang tiga minggu terakhir, harga kopi terus mengalami tekanan jual yang intensif dan tergelincir dari level stabilnya seiring dengan pasar fisik yang perlahan mulai kebanjiran pasokan barang.
Penurunan tajam harga kopi arabika global ini sangat didikte oleh perbaikan suplai jangka pendek serta proyeksi surplus yang berkepanjangan. Faktor fundamental terbesar yang menekan harga adalah rilis proyeksi terbaru dari International Coffee Organization. Lembaga tersebut memproyeksikan bahwa produksi kopi global untuk musim 2025/2026 akan tumbuh 4,4 persen secara tahunan hingga mencapai rekor 183,6 juta kantong. Mengingat tingkat konsumsi diprediksi justru mengalami penurunan 0,9 persen secara tahunan menjadi 180,6 juta kantong, pasar komoditas kini bersiap menghadapi surplus pasokan sebesar 3 juta kantong, yang sekaligus menandai terjadinya surplus pertama dalam lima tahun terakhir.
Sentimen pelemahan harga juga semakin diperberat oleh kondisi cuaca yang sangat kondusif di Brasil. Laporan meteorologi pertanian menunjukkan adanya curah hujan yang melimpah dan menguntungkan di berbagai wilayah perkebunan utama. Hujan yang turun secara teratur ini sangat membantu pemulihan tanaman dan mendukung berjalannya fase pembungaan yang sangat baik guna mengejar potensi rekor panen pada siklus dua tahunan berikutnya.
Di saat yang bersamaan, derasnya arus ekspor dari produsen kopi terbesar dunia tersebut terus membanjiri pasar. Data dari badan bea cukai Brasil mengonfirmasi bahwa aktivitas pengapalan komoditas melonjak sangat agresif pasca berakhirnya panen raya. Pengapalan biji kopi hijau dilaporkan melonjak lebih dari 50 persen pada awal September, menyusul rekor bulanan tertinggi yang sempat dicetak pada bulan Agustus lalu. Dilaporkannya gudang-gudang penyimpanan yang kini penuh sesak di Brasil menandakan bahwa pasokan ekspor telah pulih dengan sangat cepat.
Kendati tren makro bergerak turun dengan kuat, kejatuhan harga kopi arabika yang lebih parah berhasil sedikit tertahan oleh sentimen dari tingkat persediaan. Penurunan lanjutan pada ketersediaan kopi tersertifikasi di gudang bursa terus terjadi. Stok fisik di gudang pemantauan ICE terpantau masih relatif tipis dan berada di batas minimum historisnya. Kondisi persediaan yang kritis ini terus memberikan bantalan teknikal di pasar berjangka agar harga tidak langsung ambles secara ekstrem.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kopi arabika masih akan dibayangi oleh tekanan turun merespons sentimen rekor surplus produksi global dari ICO dan derasnya laju ekspor dari Brasil. Namun demikian, batas bawah dari persediaan ICE yang menipis dapat membatasi ruang koreksi. Harga kopi arabika diperkirakan bergerak menekan area Support di kisaran 272,00 hingga 270,00. Namun apabila pergerakan harga memicu aksi beli teknikal akibat jenuh jual, harga akan mencoba merangkak naik menuju area Resistance di 280,00 hingga 282,00.







