Rekomendasi Harga Gula 24 September 2026

47

(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi berjangka internasional bergerak fluktuatif dan ditutup menguat pada perdagangan hari ini, berhasil bangkit dan mencetak rebound setelah sebelumnya sempat tertekan hingga menyentuh level terendah dalam satu bulan terakhir akibat kekhawatiran melemahnya permintaan fisik.

Kontrak berjangka gula mentah dunia acuan nomor 11 di bursa ICE New York ditutup menguat dan berada di kisaran 18,82 sen dolar AS per pon.

Faktor utama yang menjadi pendorong penguatan harga gula adalah gangguan cuaca di wilayah perkebunan tebu Brasil, yang merupakan negara produsen dan pengekspor gula terbesar di dunia. Hujan deras yang melanda kawasan sentra produksi tersebut dilaporkan telah memperlambat aktivitas panen tebu. Kondisi cuaca basah ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar akan terjadinya gangguan ketersediaan pasokan dalam jangka pendek.

Sentimen penguatan juga mendapat dukungan dari prospek ketersediaan pasokan secara fundamental yang masih membayangi pasar. Organisasi Gula Internasional telah memproyeksikan bahwa pasar gula global akan mengalami defisit sekitar dua ratus ribu metrik ton untuk rentang musim 2026 hingga 2027. Kekhawatiran defisit ini semakin diperkuat oleh perkiraan dari Thailand, eksportir terbesar kedua dunia, yang memproyeksikan produksi gulanya akan merosot tajam hingga tujuh belas persen akibat terdampak oleh pola cuaca kering.

Dari sisi pasar energi, dinamika korelasi antara harga minyak dan etanol turut memberikan landasan bagi pergerakan harga gula. Meskipun harga minyak mentah tengah mengalami tekanan turun pada beberapa sesi terakhir, kenaikan harga energi secara jangka panjang akibat ketegangan geopolitik sebelumnya telah membuat pabrik penggilingan tebu di Brasil lebih mengutamakan pengalihan porsi perasan tebunya untuk diolah menjadi bahan bakar nabati etanol ketimbang memproduksi gula kristal, sehingga membatasi pasokan gula ekspor.

Kendati berhasil rebound, laju kenaikan harga gula hari ini masih tertahan oleh sejumlah sentimen pembatas yang memberikan tekanan teknikal. Laporan dari lembaga pialang komoditas StoneX baru-baru ini mempersempit estimasi defisit pasokan global dari yang sebelumnya diproyeksikan sebesar 1,7 juta metrik ton menjadi hanya 900 ribu metrik ton. Selain itu, besarnya volume pengiriman fisik komoditas pada kontrak yang telah kedaluwarsa memberikan indikasi kuat bahwa permintaan fisik komersial di pasar saat ini sebenarnya masih cukup lesu.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi bergerak konsolidatif dengan peluang menguat secara terbatas, seiring tarik-menarik antara sentimen defisit global dan lesunya permintaan komersial. Harga gula mentah diperkirakan akan bergerak menguji kisaran resistance di 19,00 hingga 19,25. Namun, jika kembali menghadapi tekanan jual merespons data cuaca yang membaik di Brasil, pergerakan harga akan berbalik mengarah pada kisaran support 18,55 hingga 18,35.