(Vibiznews – Index) – Indeks saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan awal pekan yang berakhir Selasa dinihari (29/9/2026) di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Situasi geopolitik tersebut memicu lonjakan harga di pasar minyak dan memberikan tekanan kuat pada pasar obligasi.
Indeks S&P 500 tercatat turun sebesar 0,8% ditutup pada level 7.683,69, indeks Dow Jones merosot tajam hingga 347 poin atau 0,67% pada level 51.481,51 dan Nasdaq anjlok 1,1% pada level 26.820,38.
Aksi jual saham di bursa Wall Street utamanya didorong oleh reli harga minyak dunia yang kembali memanas.
Lonjakan ini memicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa naiknya tekanan inflasi dapat memaksa bank sentral AS (Federal Reserve) untuk kembali mengambil kebijakan menaikkan suku bunga.
Ketegangan pasar obligasi semakin dalam setelah Presiden AS menolak proposal terbaru dari Iran terkait pembukaan kembali akses strategis di Selat Hormuz.
Buntut dari kebuntuan geopolitik ini, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10-tahun melonjak tajam hingga mencapai rekor level tertingginya dalam 19 tahun terakhir.
Secara sektoral, saham teknologi dan semikonduktor terpuruk karena ketatnya kondisi finansial dan tingginya suku bunga terus memberikan tekanan berat bagi perusahaan teknologi skala besar serta produsen chip.
Tercatat, saham raksasa teknologi seperti Microsoft anjlok 1,3%, Amazon turun 1,4%, dan Meta anjlok cukup dalam hingga 4,8%.
Pelemahan lebih tajam terjadi di sektor pembuat chip dengan Micron terkoreksi 2,6%, AMD merosot 3,6%, dan Intel memimpin kejatuhan sektor ini dengan terjungkal sebesar 5.7%.
Meski demikian, Nvidia berhasil tampil sebagai anomali di tengah lautan merah sektor teknologi dengan menguat 1,7% setelah perusahaan tersebut mengumumkan peningkatan rencana pembelian kembali saham yang memecahkan rekor hingga mencapai $150 miliar.








