(Vibiznews – Index) – Indeks saham utama AS di bursa Wall Street ditutup cenderung melemah pada akhir perdagangan Selasa (29/9/2026) waktu setempat.
Tekanan aksi jual saham Wall Street dipicu oleh lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) ke level tertinggi dalam 2 dekade, di tengah kekhawatiran inflasi berkelanjutan akibat tingginya harga minyak mentah.
Indeks S&P 500 turun 0,17% ke level 7.670,84, Dow Jones turun 0,26% ke posisi 51.349,92. sebaliknya Nasdaq turun tipis 0,09% ke level 26.797,54 setelah sempat menguat di awal sesi perdagangan.
Pasar obligasi AS mengalami aksi penjualan yang signifikan sehingga mendongkrak imbal hasil ke tingkat acuan baru:
* Yield Treasury 10-Tahun: Melonjak hingga menyentuh kisaran 5,25%, level tertinggi dalam kurun waktu 24 tahun terakhir.
* Yield Treasury 30-Tahun: Bertahan mendekati level tertinggi sejak tahun 2004.
Tekanan pada pasar obligasi diperberat oleh kekhawatiran atas defisit fiskal AS serta potensi berlanjutnya tekanan inflasi energi.
Sentimen negatif bertambah setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, mengisyaratkan bahwa opsi kenaikan suku bunga acuan tambahan masih terbuka pada tahun ini guna memastikan inflasi kembali ke target 2%.
Secara sektoral, saham keuangan tertekan akibat kekhawatiran memuat biaya pinjaman yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi seperti saham Bank of America (BAC) turun 0,9%.
Namun untuk saham teknologi mixed di tengah publikasi publikasi utang perusahaan, yang melemah seperti Alphabet (-0,5%) dan Nvidia (-0,7%).
Saham teknologi yang naik seperti Meta Platforms (3,2%), Oracle (4,0%), Broadcom (1,6%), dan Micron Technology (1,0%).
Dukungan pada sektor teknologi sebagian ditopang oleh kabar seputar rencana penawaran umum perdana (IPO) startup AI yaitu Anthropic, yang berpotensi memiliki nilai valuasi melebihi $2 triliun.








