Harga Kakao Kamis Anjlok Tergerus Kekuatan Dolar AS

33
kakao, cocoa

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York berakhir turun pada hari Rabu di tengah kekhawatiran mengenai permintaan.

Kontrak berjangka kakao acuan Desember di bursa ICE New York ditutup turun 41 poin atau 0,76 persen, pada 5.367 dolar AS per metrik ton.

Pada hari Selasa, produsen cokelat Lindt & Sprungli menurunkan harga cokelat untuk kedua kalinya tahun ini dan memangkas proyeksi pertumbuhan penjualan organik tahun 2026 menjadi kisaran 0% hingga 2%—turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 4% hingga 6%—dengan alasan “sentimen konsumen yang lesu.”

Harga kakao sudah berada dalam tekanan sejak hari Senin akibat adanya tanda-tanda pasokan kakao yang melimpah dari Pantai Gading. Menurut data pemerintah Pantai Gading, para petani telah mengirimkan 2,18 juta metrik ton (MMT) kakao ke pelabuhan selama tahun pemasaran kakao internasional saat ini (1 Oktober 2025 hingga 27 September 2026), meningkat +19,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meningkatnya persediaan kakao juga berdampak negatif terhadap harga, setelah stok kakao ICE naik ke level tertinggi dalam 2,25 tahun, mencapai 3.481.504 karung pada hari Rabu.

Harga kakao terus berada di bawah tekanan selama sebulan terakhir dan sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan pada hari Selasa lalu, di tengah tanda-tanda peningkatan produksi kakao di Pantai Gading. Regulator kakao Pantai Gading, Le Conseil du Café Cacao, melaporkan pada tanggal 2 September bahwa negara tersebut memanen 2,06 MMT kakao dari bulan Juni 2025 hingga Juni 2026, naik +30% dari 1,58 MMT pada tahun sebelumnya.

Namun perlu dicermati pergerakan dolar AS yang terus meningkat seiring lonjakan kenaikan imbal hasil Treasury AS dan harga minyak.

Terpantau malam ini harga kakao anjlok 5,53% pada 5.070 dolar AS per metrik ton.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao bergerak merosot tertekan penguatan dolar AS. Harga kakao berpeluang menguji area support di kisaran 4.964 hingga 4.858 dolar AS per metrik ton. Namun demikian, apabila harga naik, akan bergerak pada area resistance di kisaran 5.271 hingga 5.472 dolar AS per metrik ton.