(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York berakhir naik tipis pada hari Kamis, 1 Oktober 2026. Kenaikan ini didorong aksi short covering setelah harga sempat rebound dari level terendah dua bulan.
Kontrak berjangka kakao acuan Desember di bursa ICE New York ditutup naik 14 poin atau 0,26%, pada kisaran $5.381 per ton.
Harga sempat tertekan di awal perdagangan akibat kekhawatiran permintaan, setelah Lindt & Sprüngli menurunkan harga cokelat untuk kedua kalinya tahun ini dan memangkas proyeksi pertumbuhan penjualan organik 2026 menjadi 0% hingga 2% dari sebelumnya 4% hingga 6%. Harga kemudian berbalik menguat karena muncul kekhawatiran bahwa kenaikan harga yang dibayarkan Ghana kepada petani untuk musim 2026/27 dapat mendorong penyelundupan biji kakao dari Pantai Gading ke Ghana, sehingga berpotensi mengganggu aliran pasokan ke pasar internasional.
Di sisi lain, tekanan dari sisi pasokan masih membayangi. Inventaris kakao yang dipantau ICE naik ke level tertinggi dalam 2,25 tahun terakhir, yakni 3.481.504 kantong pada hari Rabu. Data Pantai Gading menunjukkan petani telah mengirimkan 2,18 juta metrik ton kakao ke pelabuhan sepanjang tahun pemasaran internasional berjalan (1 Oktober 2025 hingga 27 September 2026), naik 19,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sentimen permintaan yang lemah turut membuat harga kakao sempat jatuh ke level terendah dua bulan.
Namun, faktor fundamental jangka menengah masih memberi penopang harga. Survei awal perkebunan Pantai Gading menunjukkan pembentukan buah muda (cherelle) di bawah rata-rata, dengan estimasi produksi musim 2026/2027 sekitar 1,8 juta metrik ton, turun 18 persen dari sekitar 2,2 juta metrik ton pada musim sebelumnya. Kekhawatiran terhadap prospek produksi Ghana dan potensi cuaca El Niño juga masih menjadi perhatian pasar.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi, di tengah tarik-menarik antara tingginya stok gudang serta melimpahnya pengapalan Pantai Gading dan kekhawatiran atas prospek produksi musim 2026/2027 yang lebih ketat. Apabila sentimen lemahnya permintaan dan tingginya inventaris kembali mendominasi, harga kakao berpeluang melanjutkan koreksi untuk menguji area support di kisaran 5.134 hingga 4.886 dolar AS per metrik ton. Sebaliknya, apabila kekhawatiran pasokan dari Ghana dan Pantai Gading kembali menjadi sorotan, harga berpeluang rebound menguji area resistance di kisaran 5.546 hingga 5.710 dolar AS per metrik ton.








