(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah ditutup turun pada akhir pekan hari Jumat setelah G7 mengumumkan akan melepas hingga 100 juta barel pasokan minyak mentah dan diesel dari cadangan strategis mereka.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS ditutup turun 1,90% pada $91,11 per barel.
Harga minyak mentah berjangka Brent ditutup turun 0,06% pada $102,25 per barel.
Namun pada hari Minggu, harga Brent naik 0,17% pada $102,42 per barel.
Harga minyak mentah turun pada hari Jumat setelah negara-negara G7 dan mitranya mengumumkan rencana pelepasan 100 juta barel minyak mentah dan diesel dari cadangan strategis. Badan Energi Internasional (IEA) akan mengoordinasikan pelepasan pasokan tersebut, yang akan dilakukan selama empat bulan ke depan.
Harga minyak mentah sempat pulih dari level terendahnya akibat kekhawatiran akan kembali memanasnya ketegangan di Timur Tengah, setelah Reuters melaporkan bahwa Arab Saudi berencana melancarkan serangan terhadap militan Houthi di Yaman.
Kekhawatiran mengenai kembali memanasnya ketegangan di Timur Tengah turut menopang harga minyak mentah. Reuters melaporkan pada hari Jumat bahwa Arab Saudi berencana melancarkan serangan terhadap Houthi di Yaman dan mungkin akan melakukan serangan di beberapa titik di sepanjang pesisir Yaman dalam beberapa minggu mendatang demi mengamankan jalur pelayaran bagi kapal-kapal mereka yang melintasi Laut Merah.
Pergerakan maju Houthi untuk menguasai wilayah di sepanjang Laut Merah di Yaman juga menambah kekhawatiran akan semakin ketatnya pasokan minyak dari Timur Tengah. Bulan lalu, kelompok Houthi merebut dua pulau di dekat Selat Bab-al-Mandeb. Tindakan ini menyusul keberhasilan mereka merebut Pulau Perim dan kota pelabuhan Mokha di ujung selatan Laut Merah, yang menempatkan kelompok tersebut pada posisi lebih kuat untuk menyerang kapal-kapal. Sejak penutupan Selat Hormuz, Arab Saudi telah mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya melalui Laut Merah selama dua bulan terakhir. Namun, meningkatnya ketegangan dengan kelompok Houthi telah mengganggu jalur tersebut.
Harga minyak mentah mendapat dukungan dari laporan Wall Street Journal pada hari Kamis yang menyebutkan bahwa AS sedang mengirimkan gugus tugas kapal induk ketiga dan tambahan 10.000 personel militer ke Timur Tengah, serta pernyataan Presiden Trump kepada para stafnya bahwa ia berencana melanjutkan serangan pengeboman terhadap Iran pada akhir November.
Ketegangan AS-Iran masih terus berlanjut di akhir pekan ini, membuat kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz masih dalam jalan buntu. Setidaknya ada beberapa hal yang membuat ketegangan terus berlanjut : pernyataan Iran untuk Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Washington memenuhi tujuh syarat, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan adanya serangan terhadap dua kapal selama akhir pekan di perairan dekat Oman dan Iran, kelompok Houthi menyatakan telah menyerang fasilitas utama Saudi Aramco di dekat Riyadh menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone).
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak tertekan dengan pelepasan cadangan minyak oleh negara-negara kelompok G7. Namun jika kebuntuan negosiasi AS-Iran untuk membuka Selat Hormuz tersu berlanjut, akan dapat menaikkan harga minyak.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $88,16-$85,22. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $93,78-$96,46.
Harga minyak mentah berjangka Brent diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $102,04-$101,65. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $103,10-$103,77.








