(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi berjangka internasional New York, berakhir naik tajam pada hari Senin, 5 Oktober 2026.
Harga gula berjangka kontrak Maret 2027 ditutup naik 0,80 sen atau 4,01% pada kisaran 20,73 sen per pon, level tertinggi dalam 19 bulan untuk kontrak terdekat. Kenaikan ini melanjutkan lonjakan 5,23% pada perdagangan Jumat, 2 Oktober, sehingga harga telah menguat lebih dari 9% hanya dalam dua sesi.
Faktor utama yang mendorong harga adalah risiko cuaca yang memicu aksi beli dana spekulatif. Hujan yang berkelanjutan di wilayah Center-South Brasil memperlambat panen dan mengganggu penggilingan tebu di pabrik-pabrik gula, sehingga pasokan tertahan. Kenaikan harga juga dipercepat oleh penguatan real Brasil ke level tertinggi 4,5 bulan terhadap dolar AS, yang mengurangi minat produsen Brasil untuk melakukan penjualan ekspor. Di India, curah hujan monsun kumulatif Juni–September tercatat 12,6% di bawah normal per 30 September, yang terlemah dalam 11 tahun.
Di sisi fundamental, prospek defisit pasokan global masih menopang harga. Organisasi Gula Internasional (ISO) pada 1 September memperkirakan produksi gula global musim 2026/27 turun 1 persen secara tahunan menjadi 180,1 juta metrik ton, dengan defisit sebesar 200 ribu metrik ton, berbanding surplus 1,1 juta metrik ton pada musim 2025/26. Thai Sugar Millers Corp turut memproyeksikan produksi gula Thailand musim 2026/27 berpotensi anjlok 17 persen secara tahunan menjadi 10 juta metrik ton. Kekhawatiran terhadap El Nino yang diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun juga masih membayangi Brasil, India, dan Thailand sebagai tiga produsen utama dunia. Di sisi lain, USDA masih memperkirakan stok akhir gula global 2026/27 naik 2,0% secara tahunan menjadi 44,41 juta metrik ton.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi masih bergerak volatil dengan kecenderungan menguat terbatas, seiring dukungan risiko cuaca dan prospek defisit pasokan, namun rawan aksi profit taking setelah kenaikan tajam dalam dua sesi terakhir. Harga gula mentah diperkirakan akan bergerak menguji kisaran resistance terdekat di 21,08 hingga 21,42. Namun, apabila aksi ambil untung dan perbaikan cuaca di Brasil menekan pasar, pergerakan harga berpeluang berbalik arah menuju kisaran support 20,12 hingga 19,50.








