(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah ditutup melonjak pada akhir pekan hari Jumat dan membukukan kenaikan mingguan. Brent mencapai level penutupan tertinggi sejak 19 Mei, sementara WTI menembus $100 per barel. Harga didorong serangan terhadap jalur ekspor Arab Saudi, gangguan kilang Rusia, dan meningkatnya risiko eskalasi konflik.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS ditutup naik 3,5% pada $101,41 per barel, level penutupan tertinggi sejak 17 September.
Harga minyak mentah berjangka Brent ditutup naik 3,7% pada $109,86 per barel, level penutupan tertinggi sejak 19 Mei.
Dalam sepekan, Brent naik 4,9% dan WTI naik 10,4%. Kenaikan WTI lebih dari dua kali lipat Brent karena penarikan stok minyak AS menarik WTI naik lebih cepat dibanding risiko Teluk yang mengangkat Brent, sehingga selisih Brent-WTI menyempit menjadi sekitar $8,45.
Brent bergerak di kisaran $104-107 dari Senin hingga Kamis, lalu menembus pada hari Jumat karena tiga faktor. Pertama, koalisi pimpinan Saudi mencegat rudal balistik yang diarahkan ke Yanbu, pelabuhan Laut Merah yang menjadi outlet ekspor utama Arab Saudi saat Hormuz terganggu. Kedua, serangan drone Ukraina menutup satu unit utama kilang besar Rusia, sehingga memunculkan keraguan atas pasokan diesel Rusia.
Ketegangan berlanjut di akhir pekan. Houthi kembali menargetkan Yanbu, sebuah helikopter Saudi jatuh di dekat perbatasan Yaman, dan UKMTO melaporkan dua kapal tanker terkena serangan di Teluk Persia. Dari Iran, militer Iran menyatakan Selat Hormuz akan dibuka kembali jika pasukan AS meninggalkan Timur Tengah, sementara Komando Pusat AS menyatakan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran telah mengalihkan 138 kapal komersial dan Washington mempertimbangkan opsi militer tambahan. Kpler mencatat rata-rata transit Hormuz tujuh hari sekitar 11,62 juta barel per hari, sekitar 68% dari level sebelum perang.
Pasokan tambahan belum cukup meredam harga. IEA menyepakati pelepasan sisa 100 juta barel dari rencana Maret ditambah lebih dari 20 juta barel diesel, tetapi langkah ini dinilai sebagai pinjaman dan pengaturan waktu pasokan, bukan pasokan baru. Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang membebaskan sanksi utama dalam undang-undang Graham terhadap pembeli energi Rusia, tetapi langkah itu tidak menahan reli harga.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak masih berpotensi bertahan tinggi dengan volatilitas besar, selama serangan terhadap jalur ekspor Saudi di Yanbu, gangguan pelayaran di Hormuz, dan risiko pasokan diesel Rusia berlanjut. Namun setelah reli tajam, ruang aksi ambil untung terbuka lebar, apalagi jika muncul sinyal diplomatik terkait pembukaan kembali Hormuz. Pasar juga menanti data persediaan EIA pada Rabu dan keputusan The Fed pada 27-28 Oktober.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $98,21-$95,00. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $103,26-$105,10.
Harga minyak mentah berjangka Brent diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $107,72-$107,30. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $108,95-$109,76.








