(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York berakhir menguat pada hari Selasa, 27 Oktober 2026. Harga pulih sebagian besar kerugian sehari sebelumnya, ketika kakao sempat menyentuh level terendah tiga minggu.
Kontrak berjangka kakao acuan Desember di bursa ICE New York ditutup naik 87 poin atau 1,58%, pada kisaran $5.593 per ton. Sementara itu, kontrak kakao Desember di bursa ICE London ditutup naik 90 poin atau 2,16%.
Pada hari Senin, harga kakao tertekan setelah real Brasil anjlok menyusul kemenangan Luiz Inacio Lula da Silva dalam pemilihan presiden Brasil. Pada hari Selasa, harga kakao berbalik naik dan memulihkan sebagian besar kerugian tersebut.
Tekanan dari sisi stok masih membayangi. Inventaris kakao yang dipantau ICE naik stabil sejak awal tahun dan mencapai level tertinggi dalam 2,5 tahun terakhir, yakni 3.675.109 kantong pada hari Jumat pekan lalu. Pada hari Kamis (22 Oktober), harga sempat anjlok 4,47 persen ke level terendah dua minggu akibat kenaikan inventaris dan aksi jual teknikal.
Di sisi lain, pasokan dari Pantai Gading menjadi penopang harga. Data pemerintah menunjukkan petani mengirimkan 78.212 metrik ton kakao ke pelabuhan pada musim pemasaran berjalan (1 hingga 18 Oktober), turun 41 persen dari 133.209 metrik ton pada periode yang sama tahun lalu. Estimasi produksi Pantai Gading musim 2026/2027 sekitar 1,8 juta metrik ton, turun 18 persen dari sekitar 2,2 juta metrik ton pada musim sebelumnya. Badan cuaca AS (Climate Prediction Center) juga menyebut pola El Niño yang muncul di Pasifik ekuator kemungkinan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun terakhir, yang biasanya membawa kondisi lebih kering ke Afrika Barat dan berpotensi menurunkan hasil panen.
Dari sisi permintaan, sentimen masih beragam. Penggilingan Amerika Utara kuartal ketiga turun 2,5 persen menjadi 109.978 metrik ton, lebih lemah dari ekspektasi. Namun, penggilingan Asia kuartal ketiga melonjak rekor 29 persen menjadi 233.767 metrik ton, dan penggilingan Eropa naik 3,2 persen menjadi 348.215 metrik ton.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi, di tengah tarik-menarik antara tingginya stok gudang dan lemahnya permintaan Amerika Utara, melawan pengiriman Pantai Gading yang lebih kecil dan risiko El Niño. Apabila sentimen tingginya inventaris dan tekanan jual kembali mendominasi, harga kakao berpeluang melanjutkan koreksi untuk menguji area support di kisaran 5.540 hingga 5.480 dolar AS per metrik ton. Sebaliknya, apabila kekhawatiran pasokan dan cuaca Afrika Barat kembali menjadi sorotan, harga berpeluang rebound menguji area resistance di kisaran 5.650 hingga 5.710 dolar AS per metrik ton.







