(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York berakhir turun tipis pada hari Selasa, 3 November 2026, dan menyentuh level terendah lima minggu. Koreksi ini memperpanjang tren pelemahan dua minggu terakhir, di tengah kenaikan inventaris kakao di gudang ICE yang terus membebani pasar.
Kontrak berjangka kakao acuan Desember di bursa ICE New York ditutup turun 21 poin atau 0,39%, pada kisaran $5.414 per ton. Sementara itu, kontrak kakao Desember di bursa ICE London ditutup turun 26 poin atau 0,63%.
Tekanan utama datang dari sisi stok. Inventaris kakao yang dipantau ICE naik stabil sejak awal tahun dan mencapai level tertinggi dalam 2,5 tahun terakhir, yakni 3.702.175 kantong pada hari Senin. Sehari sebelumnya, harga kakao juga turun 0,33 persen, dan kakao London sempat jatuh ke level terendah tiga minggu. Sentimen negatif lain berasal dari kekhawatiran peningkatan penjualan kakao Brasil setelah real Brasil anjlok sekitar 9% menyusul kemenangan Luiz Inacio Lula da Silva dalam pemilihan presiden. Pelemahan real mendorong eksportir Brasil mempercepat penjualan karena memperoleh harga dolar yang lebih tinggi.
Di sisi lain, pasokan dari Pantai Gading menjadi penopang harga. Data pemerintah menunjukkan petani mengirimkan 44.241 metrik ton kakao ke pelabuhan pada pekan yang berakhir 25 Oktober, jauh di bawah 82.010 metrik ton pada pekan yang sama tahun lalu. Survei awal perkebunan Pantai Gading menunjukkan pembentukan buah muda (cherelle) di bawah rata-rata, dengan estimasi produksi musim 2026/2027 sekitar 1,8 juta metrik ton, turun 18 persen dari sekitar 2,2 juta metrik ton pada musim sebelumnya. Badan cuaca AS (Climate Prediction Center) juga menyebut pola El Niño yang muncul di Pasifik ekuator kemungkinan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun terakhir, yang biasanya membawa kondisi lebih kering ke Afrika Barat dan berpotensi menurunkan hasil panen.
Dari sisi permintaan, sentimen masih beragam. Penggilingan Amerika Utara kuartal ketiga turun 2,5 persen menjadi 109.978 metrik ton, lebih lemah dari ekspektasi. Namun, penggilingan Asia kuartal ketiga melonjak rekor 29 persen menjadi 233.767 metrik ton, dan penggilingan Eropa naik 3,2 persen menjadi 348.215 metrik ton.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi di sekitar level terendah lima minggu, di tengah tarik-menarik antara tingginya stok gudang dan potensi penjualan dari Brasil, melawan pengiriman Pantai Gading yang lebih kecil dan risiko El Niño. Apabila sentimen tingginya inventaris dan tekanan jual kembali mendominasi, harga kakao berpeluang melanjutkan koreksi untuk menguji area support di kisaran 5.360 hingga 5.305 dolar AS per metrik ton. Sebaliknya, apabila kekhawatiran pasokan dan cuaca Afrika Barat kembali menjadi sorotan, harga berpeluang rebound menguji area resistance di kisaran 5.470 hingga 5.525 dolar AS per metrik ton.
**Catatan sebelum publikasi:**
– Angka **$5.414** adalah hasil hitung: penutupan Jumat 30 Oktober sekitar $5.453, dikurangi 18 poin pada Senin (sekitar $5.435), lalu dikurangi 21 poin pada Selasa. Persentase kedua hari konsisten dengan level itu, tetapi mohon cek dengan data settlement ICE.
– Untuk sesi Selasa, saya hanya menemukan judul dan paragraf pembuka laporan. Data pengiriman Pantai Gading adalah angka sampai 25 Oktober, dan jika laporan lengkapnya memuat data lebih baru (atau komentar StoneX tentang El Niño yang tampak di tag artikel), silakan ganti.
– Sebagian kalimat tentang Brasil adalah konteks dari laporan pekan lalu, bukan penyebab spesifik hari Selasa menurut sumber.
– Hari ini Rabu, 4 November, jadi draf ini merangkum sesi Selasa. Saya belum menemukan laporan sesi hari ini.
– Level support dan resistance adalah usulan saya berdasarkan harga penutupan tersebut. Silakan sesuaikan dengan data teknikal Vibiz.








