(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York berakhir menguat pada hari Rabu, 4 November 2026. Harga sempat jatuh ke level terendah lima minggu, tetapi berbalik naik setelah muncul aksi short covering seiring melemahnya dolar AS.
Kontrak berjangka kakao acuan Desember di bursa ICE New York ditutup naik 42 poin atau 0,78%, pada kisaran $5.456 per ton. Sementara itu, kontrak kakao Desember di bursa ICE London ditutup turun 27 poin atau 0,66%.
Pada awal sesi, harga kakao tertekan oleh kenaikan inventaris kakao di gudang ICE yang mengurangi kekhawatiran pasokan. Inventaris kakao yang dipantau ICE naik stabil sejak awal tahun dan mencapai level tertinggi dalam 2,5 tahun terakhir, yakni 3.725.161 kantong pada hari Rabu. Namun, harga berbalik menguat setelah indeks dolar AS anjlok ke level terendah lima minggu, yang memicu short covering di kontrak kakao New York.
Sentimen negatif lain berasal dari potensi peningkatan penjualan kakao Brasil. Real Brasil anjlok sekitar 9% menyusul kemenangan Luiz Inacio Lula da Silva dalam pemilihan presiden, yang mendorong eksportir Brasil mempercepat penjualan karena memperoleh harga dolar yang lebih tinggi.
Di sisi lain, pasokan dari Pantai Gading menjadi penopang harga. Data pemerintah menunjukkan petani mengirimkan 44.241 metrik ton kakao ke pelabuhan pada pekan yang berakhir 25 Oktober, jauh di bawah 82.010 metrik ton pada pekan yang sama tahun lalu. Survei awal perkebunan Pantai Gading menunjukkan pembentukan buah muda (cherelle) di bawah rata-rata, dengan estimasi produksi musim 2026/2027 sekitar 1,8 juta metrik ton, turun 18 persen dari sekitar 2,2 juta metrik ton pada musim sebelumnya. Badan cuaca AS (Climate Prediction Center) juga menyebut pola El Niño yang muncul di Pasifik ekuator kemungkinan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun terakhir, yang biasanya membawa kondisi lebih kering ke Afrika Barat dan berpotensi menurunkan hasil panen.
Dari sisi permintaan, sentimen masih beragam. Penggilingan Amerika Utara kuartal ketiga turun 2,5 persen menjadi 109.978 metrik ton, lebih lemah dari ekspektasi. Namun, penggilingan Asia kuartal ketiga melonjak rekor 29 persen menjadi 233.767 metrik ton, dan penggilingan Eropa naik 3,2 persen menjadi 348.215 metrik ton.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi setelah rebound dari level terendah lima minggu, di tengah tarik-menarik antara tingginya stok gudang dan potensi penjualan dari Brasil, melawan pengiriman Pantai Gading yang lebih kecil, risiko El Niño, dan pelemahan dolar AS. Apabila sentimen tingginya inventaris dan tekanan jual kembali mendominasi, harga kakao berpeluang terkoreksi untuk menguji area support di kisaran 5.329 hingga 5.203 dolar AS per metrik ton. Sebaliknya, apabila pelemahan dolar dan kekhawatiran pasokan Afrika Barat berlanjut, harga berpeluang melanjutkan penguatan menguji area resistance di kisaran 5.527 hingga 5.599 dolar AS per metrik ton.








