Mata uang rupiah mengalami retreat pada sesi perdagangan Kamis (1/10). Mata uang lokal secara fundamental masih berada dalam trend bearish yang kuat. Sepanjang bulan September nilai tukar rupiah mengalami penurunan lebih dari 4 persen.
Pada perdagangan di bulan September lalu mata uang rupiah sempat mengalami penurunan hingga mencapai posisi paling rendah dalam lebih dalam lebih dari 17 tahun belakangan. Kondisi mata uang dalam negeri masih belum menemukan pijakan yang cukup solid untuk rebound dengan mantap.
Akan tetapi saat ini sentimen negatif masih mendominasi pergerakan nilai tukar rupiah. Sinyal bahwa suku bunga acuan AS akan dinaikkan tahun ini makin kuat setelah Janet Yellen mengatakan hal tersebut pada pidatonya akhir pekan lalu. Desember menjadi target bulan kenaikan suku bunga acuan di Negara tersebut. Pernyataan Yellen tersebut diamini oleh William Dudley, Presiden Fed New York.
Hari ini rupiah terpantau mengalami pembukaan pada posisi 14.628,00 per dollar AS. Mata uang lokal tersebut mengalami kenaikan tipis dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin di level 14.652,50 per dollar AS. Saat ini rupiah sudah melemah dari posisi pembukaan dan mencapai teritori negatif. Rupiah sudah mengalami pelemahan sebesar 17,50 poin atau 0,12 persen pada posisi 14.670,00 per dollar.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan hari ini berpotensi untuk bertahan di teritori negatif. Meskipun demikian penurunan yang terjadi tampaknya akan terbatas. Para investor masih belum menemukan pijakan yang cukup kuat untuk membuat mata uang yang sudah oversold ini untuk bergerak rebound.
Mata uang rupiah hari ini berpotensi kembali mengetes level support pada posisi 14.800 dan 14.900 per dollar AS. Sedangkan level resistance harian yang akan dites ada pada 14.600 dan 14.500 per dollar.
Ika Akbarwati/VMN/VBN/Senior Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Jul Allens