Rekomendasi Mingguan Minyak 24 – 28 Januari 2022: Masih Bisa Bertahan Naik?

539
harga minyak

(Vibiznews – Commodity) Memulai perdagangan diminggu yang baru pada minggu lalu di $82.72,  minyak mentah WTI sempat naik ke ketinggian beberapa tahun yang baru di $87.08 sekalipun terkoreksi turun ke $85.20 pada hari yang sama. Mengakhiri minggu lalu, harga minyak mentah WTI tetap bertahan di $84.70 setelah sebelumnya sempat turun ke di $84.10 karena meningkatnya persediaan minyak mentah AS.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex, berhasil kembali pulih ke teritori positip pada beberapa jam terakhir sebelum penutupan perdagangan hari Jumat minggu lalu setelah sebelumnya turun tajam sebanyak 1.9% atau lebih dari $1.50 ke bawah $83.00. Meskipun demikian, level harga sekarang ini di $84.70, harga minyak mentah WTI tetap masih berada $3.0 di bawah dari ketinggian mingguan di $87.00.

Koreksi turun terhadap harga minyak WTI yang terakhir merupakan refleksi dari turunnya minat terhadap resiko global dimana harga saham global dan yields obligasi turun secara luas, disamping adanya aksi ambil untung menjelang penutupan perdagangan akhir minggu.

Selain itu naiknya persediaan minyak mentah AS secara mengejutkan juga membebani harga minyak WTI. Kenaikan inventori minyak mentah AS ini adalah yang pertama kali sejak bulan November. Meskipun demikian, WTI berhasil mengakhiri minggu lalu dengan kenaikan mingguan yang menandakan kenaikan harga selama 5 minggu berturut-turut dan juga menyentuh level harga tertinggi sejak September 2014.

Minggu ini, ekspektasi yang berkelanjutan akan pertumbuhan permintaan yang kuat, dikombinasikan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan keprihatinan akan kurangnya supply dari OPEC+ kemungkinan masih akan menopang naik harga minyak mentah WTI.

Sudah mulai menurunnya kasus Covid – 19 di Inggris dan AS yang sebelumnya sempat naik tinggi karena penularan yang cepat dari varian Omicron, akan membuat ekspektasi mengenai pertumbuhan permintaan yang kuat menjadi berkelanjutan.

Minggu lalu diakhiri dengan berita bahwa Rusia sedang bersiap menyerang Ukriana. Memasuki minggu yang baru minggu ini, ketegangan geopolitik bisa semakin meningkat apalagi apabila Rusia jadi menyerang Ukraina pada minggu ini.

Kesulitan dari OPEC+ untuk memenuhi target penambahan produksinya kemungkinan masih akan berlanjut pada minggu ini karena hal ini menyangkut infrastruktur yang tidak bisa dengan cepat diatasi.

Potensi akan naiknya dollar AS pada minggu ini juga menambah potensi kenaikan harga minyak WTI yang berbasiskan dollar AS.

Pertemuan FOMC the Fed minggu ini yang akan diikuti dengan konferensi pers, adalah event makro terbesar pada minggu ini. Kemungkinan the Fed akan menjadi lebih hawkish dalam hal akan menaikkan tingkat bunga pada bulan Maret dan membeberkan lebih jelas akan potensi pengurangan neraca. Saat ini pasar telah memperhitungkan 4 kali kenaikan tingkat bunga pada tahun 2022.

Dengan gelombang Omicron sekarang telah melewati puncaknya secara nasional, tidak ada lagi yang bisa menahan the Fed, apalagi apabila minggu ini ada berita bahwa pertumbuhan upah terus meningkat. Kemungkinan juga the Fed akan bisa lebih hawkish dengan mengumumkan selesainya proses tapering dengan tiba-tiba.

Di dalam lingkungan dimana ekonomi telah sepenuhnya pulih dari akibat pandemik, dimana tingkat pengangguran sudah kembali di bawah 4% dan dimana inflasi tetap berada di ketinggian selama 40 tahun, nampaknya aneh apabila the Fed masih terus menstimulasi ekonomi. Hal ini membuat dollar AS berpotensi naik pada minggu ini.

“Support” terdekat menunggu di $83.64 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $82.77 dan kemudian 81.13. “Resistance” yang terdekat menunggu di $85.05 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $86.15 dan kemudian $87.80.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here